Hari Pangan Sedunia 2026, Pemkot Balikpapan Perkuat Kolaborasi Jaga Ketahanan Pangan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Ilustrasi tanaman buah naga di kebun KWT Daun Sop Ceria, Jalan Soekarno-Hatta Km 21 RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi tanaman buah naga di kebun KWT Daun Sop Ceria, Jalan Soekarno-Hatta Km 21 RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Hari Pangan Sedunia 2026, Pemkot Balikpapan Perkuat Kolaborasi Jaga Ketahanan Pangan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Ilustrasi tanaman buah naga di kebun KWT Daun Sop Ceria, Jalan Soekarno-Hatta Km 21 RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi tanaman buah naga di kebun KWT Daun Sop Ceria, Jalan Soekarno-Hatta Km 21 RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Hari Pangan Sedunia 2026, Pemkot Balikpapan Perkuat Kolaborasi Jaga Ketahanan Pangan 

Ilustrasi tanaman buah naga di kebun KWT Daun Sop Ceria, Jalan Soekarno-Hatta Km 21 RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan 

BALIKPAPAN - Tema Hari Pangan Sedunia 2026, "Innovate Today. Nourish Tomorrow" atau berinovasi hari ini untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan, menjadi pengingat pentingnya upaya menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Bagi Kota Balikpapan, tantangan tersebut masih cukup besar. Sekitar 95 persen kebutuhan pangan masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. 

Bahkan, kebutuhan beras sepenuhnya dipenuhi dari daerah lain karena keterbatasan produksi lokal.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan untuk memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga di tengah pertumbuhan kota dan keterbatasan lahan pertanian.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Balikpapan, Sri Wahjuningsih mengungkapkan, bahwa hasil produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk.

"Secara keseluruhan, kebutuhan pangan kita sekitar 95 persen masih dipasok dari luar daerah. Kalau beras, 100 persen dari luar daerah," ungkap Yuyun sapaannya, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, ketergantungan tersebut tidak terlepas dari keterbatasan lahan pertanian di Balikpapan. 

Sebagai kota yang berkembang dengan aktivitas industri, perdagangan, jasa, dan pembangunan perkotaan, ruang untuk mengembangkan produksi pangan relatif terbatas.

Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah juga terlihat pada komoditas sayur-mayur dan buah-buahan. 

Untuk produk dari dataran tinggi, kebutuhan Balikpapan masih sepenuhnya dipenuhi dari luar daerah. Sementara itu, produksi lokal sayur dan buah dataran rendah diperkirakan baru mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan.

Meski demikian, Yuyun menyebut Balikpapan tetap memiliki petani, peternak, nelayan, dan pembudidaya ikan yang menghasilkan komoditas pangan lokal. 

Hanya saja, jumlah produksinya belum mencukupi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

"Memang ada hasil produksinya, ada petaninya, ada juga peternaknya. Namun, hasilnya belum bisa mencukupi kebutuhan penduduk di Kota Balikpapan," jelasnya.

Menghadapi tantangan tersebut, Pemkot Balikpapan mengupayakan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan. 

Salah satunya melalui kerja sama antardaerah dengan wilayah penghasil pangan, seperti Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Barat (Sulbar), dan Jawa Timur (Jatim).

Menurutnya kerja sama tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesinambungan pasokan komoditas yang dibutuhkan masyarakat Balikpapan.

"Upaya yang dilakukan salah satunya melalui kerja sama antardaerah antara Pemkot Balikpapan dengan daerah penghasil pangan, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Jawa Timur," ujarnya.

Selain kerja sama antardaerah, pemerintah juga mendorong pola kerja sama bisnis atau business-to-business antara pelaku usaha pangan di Balikpapan dan pelaku usaha di kabupaten maupun kota penghasil pangan.

Melalui kerja sama tersebut, hubungan antara pemasok dan pelaku usaha diharapkan semakin kuat sehingga distribusi bahan pangan ke Balikpapan dapat berjalan lancar.

Di sisi lain, pemerintah berupaya mempertahankan produksi pangan lokal melalui dukungan kepada petani, peternak, nelayan, dan pembudidaya ikan. 

Penyediaan sarana dan prasarana sektor pertanian serta perikanan juga menjadi bagian dari upaya tersebut.

Selain memperkuat pasokan, Pemkot Balikpapan menjalankan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan pasar murah sebagai salah satu upaya menjaga keterjangkauan harga bahan pokok bagi masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan distributor, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan, dan petani untuk menyediakan sejumlah komoditas dengan harga yang diharapkan setingkat distributor atau petani.

Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga sekaligus mendukung stabilitas harga di pasaran.

DKP3 Balikpapan juga berupaya menjamin mutu dan keamanan pangan segar asal tumbuhan maupun hewan yang beredar di masyarakat. 

Sementara itu, dukungan terhadap infrastruktur pangan diperlukan untuk menjaga kelancaran distribusi dari daerah penghasil hingga ke konsumen.

Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkot Balikpapan dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama ketika produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan penduduk.

Sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2026, "Innovate Today. Nourish Tomorrow", penguatan kerja sama pasokan, pemeliharaan produksi lokal, dan perbaikan distribusi menjadi langkah yang relevan untuk menjaga ketersediaan pangan pada masa mendatang.

Bagi Balikpapan, tantangannya bukan hanya memastikan pangan tersedia hari ini, tetapi juga membangun sistem pasokan yang lebih tangguh agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah keterbatasan lahan dan ketergantungan terhadap daerah lain. (Adv)