Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN – Dinas Pendidikan (Disdik) Nunukan mendorong setiap sekolah menjadikan simulasi kebencanaan sebagai agenda rutin untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Nunukan, Andi Maskur, menilai simulasi kebencanaan perlu dilaksanakan secara berkala, setidaknya satu kali dalam setahun. Jika memungkinkan, frekuensi pelaksanaannya dapat ditingkatkan menjadi dua kali dalam setahun.
Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga membentuk kemampuan guru dan seluruh warga sekolah dalam bertindak cepat dan tepat ketika bencana terjadi.
Latihan kebencanaan merupakan bagian penting dari pendidikan keselamatan di sekolah. Melalui simulasi, peserta didik dan tenaga pendidik dapat mempraktikkan langkah penyelamatan diri sekaligus memahami prosedur yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.
“Kami dari Disdik mengucapkan terima kasih kepada BPBD, petugas pemadam kebakaran, serta seluruh pihak yang terlibat. Harapan kami, ke depannya simulasi kebencanaan ini minimal dilaksanakan satu kali dalam setahun. Kalau memungkinkan, bisa dua kali setahun,” ujar Andi Maskur.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan tidak cukup dibangun melalui penyampaian materi di dalam kelas. Pengetahuan tersebut perlu diperkuat dengan latihan langsung agar warga sekolah terbiasa mengenali risiko, memahami jalur evakuasi, dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan sesuai kondisi yang dihadapi.
Andi Maskur juga mendorong SMP Negeri 1 Nunukan menjadi rujukan bagi sekolah menengah pertama lainnya dalam menerapkan program kesiapsiagaan bencana. Sebagai sekolah unggulan sekaligus percontohan, pengalaman dan praktik yang diterapkan di sekolah tersebut diharapkan dapat direplikasi di satuan pendidikan lain di Kabupaten Nunukan.
“SMP Negeri 1 ini merupakan sekolah unggulan sekaligus sekolah percontohan. Kami berharap sekolah-sekolah SMP lainnya juga bisa meniru apa yang dilakukan di sini, terutama dalam penanganan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana,” katanya.
Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, Disdik Nunukan menyoroti pentingnya memastikan keamanan infrastruktur pendidikan, terutama dalam menghadapi potensi gempa bumi.
Andi Maskur mengatakan, kesiapan sekolah menghadapi bencana harus didukung kondisi bangunan yang memenuhi aspek keselamatan. Struktur gedung perlu mendapat perhatian dan pengawasan agar risiko terhadap siswa, guru, serta tenaga kependidikan dapat diminimalkan ketika bencana terjadi.
“Bukan hanya pengetahuan tentang kebencanaan yang perlu diperhatikan, tetapi juga kondisi bangunannya. Struktur bangunan sekolah harus diawasi dan diperhatikan dengan baik agar aspek keselamatannya lebih terjamin apabila terjadi gempa,” jelasnya.
Pengalaman kerusakan pada sejumlah bangunan sekolah, lanjutnya, perlu menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan keamanan fasilitas pendidikan. Salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan ialah pemilihan material bangunan yang lebih ringan pada bagian tertentu, dengan tetap memperhatikan kebutuhan teknis dan standar keselamatan konstruksi.
Ia menilai, upaya membangun sekolah yang aman dari bencana harus dilakukan secara menyeluruh. Edukasi, latihan evakuasi, serta perhatian terhadap kelayakan bangunan merupakan unsur yang saling melengkapi dalam melindungi warga sekolah.
"Melalui penguatan program SPAB secara berkelanjutan, kami berharap kesadaran terhadap risiko bencana semakin melekat dalam aktivitas pendidikan. Dengan kesiapan yang lebih baik, sekolah diharapkan mampu mengurangi risiko, meningkatkan kemampuan merespons keadaan darurat dan melindungi keselamatan seluruh warga satuan pendidikan," pungkasnya.


