Kasus ISPA Meningkat, Dinkes Balikpapan Siapkan 16 Rumah Sakit dan Perkuat Edukasi Warga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Flyer edukasi warga tentang dampak kesehatan akibat kabut asap. (Foto: Dinkes Balikpapan
Flyer edukasi warga tentang dampak kesehatan akibat kabut asap. (Foto: Dinkes Balikpapan

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus ISPA Meningkat, Dinkes Balikpapan Siapkan 16 Rumah Sakit dan Perkuat Edukasi Warga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Flyer edukasi warga tentang dampak kesehatan akibat kabut asap. (Foto: Dinkes Balikpapan
Flyer edukasi warga tentang dampak kesehatan akibat kabut asap. (Foto: Dinkes Balikpapan

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus ISPA Meningkat, Dinkes Balikpapan Siapkan 16 Rumah Sakit dan Perkuat Edukasi Warga

Flyer edukasi warga tentang dampak kesehatan akibat kabut asap. (Foto: Dinkes Balikpapan

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Balikpapan menunjukkan tren peningkatan sejak Juli 2026. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan pun memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan sekaligus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat untuk menekan risiko penyakit tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Balikpapan, Niken Dayu Anggraini mengatakan peningkatan kasus terlihat dari laporan mingguan fasilitas kesehatan sejak pertengahan tahun.

"Biasanya perminggu ini sekitar 1.500 sampai 2.000 kasus. Sejak bulan Juli meningkat sekitar 3.000-an per minggu," kata dr Niken, Jumat (23/10/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan akumulasi laporan sejak awal tahun hingga Oktober 2026, jumlah kasus ISPA di Balikpapan mencapai lebih dari 91 ribu kasus. 

Angka tersebut dihitung sejak minggu pertama hingga minggu ke-40 tahun ini.

Secara bulanan, kasus yang sebelumnya rata-rata berkisar 6.000-7.000 kasus meningkat menjadi sekitar 7.000 kasus pada Juli, 8.000 pada Agustus, dan 9.000 pada September. 

Sementara pada dua minggu pertama Oktober, jumlahnya telah mencapai sekitar 7.000 kasus.

Menurutnya, peningkatan ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor. Selain bakteri dan virus, kondisi daya tahan tubuh, polusi udara, asap rokok, serta kabut asap yang menurunkan kualitas udara juga dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

"ISPA ini multifaktor, bisa karena bakteri, virus, bisa juga karena kondisi imunitas masyarakat sendiri. Selain itu, polusi, asap rokok, dan kabut asap yang sekarang mulai menurunkan kualitas udara juga menjadi salah satu faktor peningkatan kasus ISPA di Balikpapan," jelasnya.

Menghadapi tren tersebut, Dinkes Balikpapan memastikan layanan kesehatan tetap disiapkan untuk menangani pasien ISPA. 

Saat ini, terdapat 16 rumah sakit, 27 puskesmas, dan sekitar 100 klinik yang menjadi bagian dari jaringan pelayanan kesehatan di kota ini.

dr Niken mengatakan, kesiapan tersebut mencakup tenaga kesehatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai, serta ketersediaan oksigen untuk menangani pasien sesuai tingkat keparahan penyakit.

Dinkes juga melakukan pemantauan perkembangan kasus melalui laporan fasilitas kesehatan. 

Langkah ini dilakukan agar peningkatan kasus dapat diketahui dan direspons lebih dini.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui media sosial maupun penyuluhan di puskesmas. 

Masyarakat diimbau mengurangi paparan asap, menggunakan masker yang sesuai saat diperlukan, serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Meski demikian, dr Niken mengungkapkan ketersediaan masker menjadi salah satu perhatian di tengah meningkatnya kasus ISPA. 

Stok yang sebelumnya diperkirakan mencukupi hingga akhir tahun mulai menipis.

"Ketersediaan masker yang tadinya kami hitung cukup untuk sampai akhir tahun, sekarang stoknya mulai menipis. Namun, kami sudah berkoordinasi dengan instansi dan perusahaan melalui CSR di Balikpapan untuk membantu penyediaan masker bagi masyarakat maupun puskesmas," ujarnya.

Selain kelompok masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, bayi dan balita menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. 

Dinkes mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala batuk dan demam, terutama jika disertai kesulitan bernapas.

dr Niken mengimbau orang tua segera membawa anak ke puskesmas atau klinik terdekat apabila terlihat mengalami gangguan pernapasan. 

Orang tua juga dapat memperhatikan dan menghitung frekuensi napas anak selama satu menit untuk mengenali kemungkinan tanda bahaya.

"Kalau bayi atau balitanya sudah demam, kemudian batuk-batuk sampai terlihat seperti susah bernapas, segera dibawa ke puskesmas. Jangan ditunggu besok-besok," tegasnya.

Dinkes Balikpapan juga berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), untuk mengurangi paparan faktor risiko, terutama bagi kelompok rentan.

Melalui kesiapan layanan kesehatan, pemantauan kasus, dan edukasi berkelanjutan, Dinkes berharap masyarakat semakin waspada terhadap ISPA. 

Warga diimbau menjaga kesehatan, mengurangi paparan polusi dan asap, serta segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda-tanda gangguan pernapasan yang mengkhawatirkan. (Adv)