Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Bagian kakao yang selama ini kerap terbuang mulai dilirik sebagai peluang usaha bernilai ekonomi. Melalui inovasi pengolahan hasil perkebunan,
Kepala Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Julita, mendorong pemanfaatan limbah kakao menjadi produk pangan yang memiliki nilai jual, salah satunya teh herbal dari kulit ari biji kakao.
Inovasi ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memaksimalkan hasil perkebunan kakao. Jika selama ini pemanfaatannya lebih banyak berfokus pada biji sebagai bahan utama produk olahan cokelat, bagian lain dari kakao ternyata masih berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Kulit ari biji kakao yang biasanya dipisahkan setelah proses penyangraian dapat diolah menjadi teh herbal. Bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan tersebut berpeluang menjadi produk khas kampung apabila dikembangkan melalui proses pengolahan yang tepat, pengemasan menarik, serta pemasaran yang berkelanjutan.
“Pengembangan produk ini juga menjadi salah satu cara untuk mendorong potensi Kampung Merasa,” ucapnya.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah, tetapi memiliki peluang menghasilkan produk siap konsumsi yang dapat dipasarkan kepada konsumen lebih luas.
Selain kulit ari biji, kulit buah kakao juga menyimpan potensi untuk dimanfaatkan. Bagian ini memiliki proporsi besar dari keseluruhan buah dan kerap berakhir sebagai limbah perkebunan.
“Dengan pengolahan yang sesuai, kulit buah kakao berpotensi dijadikan bahan baku produk pangan lain, sehingga pemanfaatan hasil perkebunan bisa lebih optimal,” tambahnya.
Meski demikian, pengolahan kulit kakao untuk konsumsi memerlukan penanganan yang tepat, mulai dari pemilihan bahan baku, kebersihan, pengeringan, hingga pengujian keamanan pangan. Hal tersebut penting agar produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu dan layak dipasarkan.
Bagi Kampung Merasa, inovasi olahan kakao ini berpotensi menjadi pintu masuk bagi pengembangan usaha berbasis komoditas lokal. Jika dikelola secara konsisten, produk teh herbal kakao dapat menambah pilihan oleh-oleh khas kampung sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan dari bahan yang sebelumnya kurang bernilai.
Pemanfaatan bagian kakao yang belum optimal juga sejalan dengan upaya mengembangkan ekonomi kampung melalui kreativitas dan pengolahan potensi lokal.
“Dengan dukungan pengembangan produk, peningkatan kualitas, serta akses pemasaran, komoditas kakao di Kampung Merasa berpeluang memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (Adv)



