Kisah Ibu Muda Nurazima Berjuang Meraih Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Rela Berjalan Kaki Setiap Pagi dari Binusan ke Kampus

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
6 menit baca
Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam saat melihat langsung kondisi Shima mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan. (Foto: AFS)
Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam saat melihat langsung kondisi Shima mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan. (Foto: AFS)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kisah Ibu Muda Nurazima Berjuang Meraih Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Rela Berjalan Kaki Setiap Pagi dari Binusan ke Kampus

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
6 menit baca
Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam saat melihat langsung kondisi Shima mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan. (Foto: AFS)
Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam saat melihat langsung kondisi Shima mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan. (Foto: AFS)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kisah Ibu Muda Nurazima Berjuang Meraih Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Rela Berjalan Kaki Setiap Pagi dari Binusan ke Kampus

Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam saat melihat langsung kondisi Shima mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan. (Foto: AFS)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN - Di tengah keterbatasan ekonomi, rumah yang masih menumpang dan tanggung jawab membesarkan seorang anak, Nurazima tetap melangkah menuju kampus. Bagi perempuan 26 tahun ini, pendidikan adalah harapan untuk mengubah nasib keluarga. 

Pukul 06.00 WITA, ketika sebagian orang masih menikmati waktu istirahat, Nurazima sudah harus memulai perjuangannya. Dari Binusan Kilometer 1, ia berjalan kaki menuju kampus Politeknik Negeri Nunukan. Tidak ada kendaraan pribadi yang bisa diandalkan. Jika beruntung, ia mendapatkan tumpangan dari pengendara motor atau mobil yang melintas.

Perjalanan itu bukan sekadar rutinitas seorang mahasiswa menuju ruang kuliah. Bagi perempuan yang akrab disapa Shima tersebut, setiap langkah merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan sebuah harapan, menyelesaikan pendidikan dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi anak serta kedua orang tuanya.

Shima kini tercatat sebagai mahasiswa semester pertama Program Studi Teknik Alat Berat (TAB) Politeknik Negeri Nunukan. Pada usia 26 tahun, ketika sebagian orang mungkin telah mapan dalam pekerjaan, ia justru sedang merintis jalan untuk mengubah masa depannya dari titik kehidupan yang penuh keterbatasan.

Namun, tekad itu harus berhadapan dengan persoalan yang tidak sederhana. Perkuliahan dimulai pukul 07.30 WITA, sementara perjalanan menuju kampus bergantung pada kemampuan dirinya berjalan kaki atau mendapatkan tumpangan. Tak jarang, kendala transportasi membuatnya terlambat mengikuti perkuliahan.

"Ketika ada tugas kelompok, saya harus berusaha menyesuaikan diri dengan teman yang mau menjemput saya," ujar Shima dengan nada lirih. 

Saat jam kuliah berakhir, persoalan serupa kembali menanti, mencari tumpangan atau menggunakan jasa ojek sesuai kemampuan keuangannya.

Bagi mahasiswa lain, perjalanan ke kampus mungkin hanya bagian kecil dari keseharian. Bagi Shima, urusan transportasi menjadi persoalan yang harus dipikirkan berulang kali, bahkan sebelum ia sempat membuka buku dan mengikuti pelajaran.

Di tengah keadaan itu, ia tetap berusaha bertahan. Sebab, baginya, berhenti kuliah berarti semakin jauh dari masa depan yang ingin diwujudkannya.

Perjuangan Shima tidak hanya terlihat dalam langkah kakinya menuju kampus. Di balik kesulitannya menempuh pendidikan, ada kondisi keluarga yang turut membentuk perjalanan hidupnya.

Bersama keluarga, Shima telah sekitar 10 tahun tinggal menumpang di rumah milik orang lain. Rumah tersebut menjadi tempat mereka bertahan menjalani kehidupan, meskipun bukan hunian yang dimiliki sendiri.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang itu, harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik terus berjalan beriringan dengan keterbatasan yang mereka hadapi.

Ayah Shima kini berusia 70 tahun dan sudah tidak bekerja. Ibunya berusia 64 tahun. Pada usia senja, ketika kebutuhan hidup dan ketenangan keluarga menjadi hal penting, keduanya masih menjalani kehidupan dalam kondisi yang tidak mudah.

Bagi Shima, keadaan tersebut menjadi salah satu alasan untuk terus berjuang. Ia ingin memiliki masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi keluarga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Keinginan itu kini ia tempuh melalui pendidikan tinggi. Jalan yang dipilihnya mungkin tidak mudah, tetapi ia tetap berusaha menjalaninya.

Ada tanggung jawab lain yang harus dipikul Shima di tengah perjuangannya menempuh pendidikan. Ia merupakan seorang ibu dengan anak berusia lima tahun.

Kehidupannya berubah ketika suaminya meninggalkannya saat kehamilannya baru memasuki usia dua bulan. Sejak itu, ia harus menghadapi perjalanan hidup dengan tanggung jawab membesarkan anak, sekaligus memikirkan bagaimana membangun masa depan yang lebih baik.

Menjadi mahasiswa dalam keadaan demikian bukan perkara mudah. Waktu, tenaga, biaya, dan perhatian harus dibagi di antara berbagai kebutuhan yang sama-sama penting.

Di satu sisi, ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan masa depan yang layak. Di sisi lain, ada pendidikan yang ingin dituntaskan sebagai bekal untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan sendiri.

"Saya tidak ingin dengan keadaan ini menjadi batas bagi masa depan saya dan anak saya juga terhenti," ucapnya tegas.

Ia ingin menyelesaikan kuliah, mendapatkan pekerjaan yang layak dan membesarkan anaknya dengan kehidupan yang lebih baik. Ia juga ingin melihat kedua orang tuanya merasakan kebahagiaan atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan.

Sebagai anak ketiga, Shima memiliki harapan tersendiri. Ia ingin menuntaskan pendidikan tinggi yang belum berhasil diselesaikan oleh kedua kakaknya.

Bagi dirinya, keberhasilan menyelesaikan kuliah kelak bukan hanya pencapaian akademik. Itu juga menjadi bukti bahwa keterbatasan keluarga tidak harus mematikan cita-cita seseorang.

Kondisi yang dihadapi Shima mendapat perhatian melalui kunjungan langsung Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam untuk mendengarkan keluhannya sekaligus melihat situasi kehidupannya.

Dalam kunjungan tersebut, pihak yang berkunjung bersama Ketua Program Studi Teknik Alat Berat, Canda Putri Anggini, berupaya memahami berbagai kendala yang dihadapi Shima selama menjalani pendidikan.

Bagi Andi Fajrul Syam, pertemuan itu menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat bahwa persoalan yang dihadapi seorang mahasiswa tidak selalu berkaitan dengan kemampuan akademik. Ada pula hambatan di luar ruang kelas yang dapat memengaruhi keberlangsungan pendidikannya.

"Dalam kasus Shima, transportasi menjadi salah satu persoalan paling mendesak. Perjalanan dari Binusan Kilometer 1 menuju kampus harus ia tempuh dengan berjalan kaki atau mengandalkan tumpangan orang lain. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketepatan waktu dan kelancaran aktivitas perkuliahannya," ucap Andi Fajrul Syam kepada media ini.

Karena itu, komunikasi dan koordinasi dengan pihak Program Studi Teknik Alat Berat Politeknik Negeri Nunukan diharapkan dapat membantu mengidentifikasi solusi yang memungkinkan, terutama untuk mendukung mobilitas dan keberlanjutan pendidikannya.

Perhatian juga diharapkan datang dari pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan pemberdayaan generasi muda.

Bentuk dukungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kewenangan masing-masing pihak. Yang terpenting, kesulitan yang dialami Shima tidak dibiarkan menjadi hambatan berkepanjangan hingga mengancam kesempatan yang sedang ia perjuangkan.

Kisah Shima memperlihatkan bahwa kesempatan menempuh pendidikan tidak selalu dimulai dari kondisi yang setara.

Ada mahasiswa yang dapat berangkat ke kampus dengan kendaraan pribadi, memiliki tempat tinggal yang nyaman dan menjalani perkuliahan tanpa harus memikirkan persoalan transportasi setiap hari.

Namun, ada pula mahasiswa yang harus menghitung kemampuan untuk membayar ongkos, mencari tumpangan, atau berjalan kaki agar tidak kehilangan kesempatan mengikuti perkuliahan.

Shima berada dalam kelompok kedua. Ia menjalani pendidikan di tengah persoalan keluarga, keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Meski demikian, perjuangannya tidak seharusnya hanya dilihat sebagai kisah tentang kesulitan. Ada tekad yang patut diperhatikan di dalamnya, keinginan untuk terus belajar ketika keadaan belum memberikan banyak kemudahan.

"Ia tidak membutuhkan belas kasihan yang berhenti pada rasa iba. Ia membutuhkan kesempatan dan dukungan nyata agar dapat menjalani pendidikan sebagaimana mahasiswa lainnya," tegas Andi Fajrul Syam.

Sebab, pendidikan semestinya menjadi jalan untuk memperluas pilihan hidup, membuka kesempatan kerja dan memutus keterbatasan yang diwariskan dari satu keadaan ke keadaan berikutnya.

Ketika seorang mahasiswa berpotensi terhambat karena tidak memiliki akses transportasi yang memadai, persoalan itu layak mendapat perhatian bersama. Bukan karena setiap masalah harus diselesaikan oleh orang lain, melainkan karena dukungan yang tepat dapat membantu seseorang bertahan dan menyelesaikan perjuangannya.

Perjalanan Shima masih panjang. Ia baru memulai semester pertama di Program Studi Teknik Alat Berat Politeknik Negeri Nunukan. Masih ada perkuliahan, tugas, ujian dan berbagai tantangan akademik yang harus dilewati sebelum ia dapat meraih gelar yang diimpikannya.

Di luar kampus, tanggung jawab sebagai seorang ibu dan anggota keluarga juga tetap menantinya.

Tidak ada yang dapat memastikan bahwa perjalanan itu akan selalu mudah. Namun, dukungan yang tepat dapat memperbesar peluangnya untuk bertahan dan menyelesaikan pendidikan.

Bayangkan jika kelak Shima berhasil menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan yang layak dan mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak serta kedua orang tuanya.

"Perjalanan kaki dari Binusan Kilometer 1, tumpangan yang harus ia harapkan setiap pagi dan berbagai kesulitan yang kini dihadapi mungkin akan menjadi bagian dari kisah panjang yang mengantarkannya menuju keberhasilan," ucap pria yang akrab disapa AFS ini.

Lebih dari itu, keberhasilannya kelak dapat menjadi kebanggaan bagi keluarga, terutama bagi ayah dan ibunya yang semakin lanjut usia. Mereka memiliki kesempatan untuk menyaksikan anaknya memperjuangkan pendidikan dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Harapan itulah yang membuat perjuangan Shima layak mendapat perhatian.

Masyarakat yang ingin membantu dapat memberikan dukungan sesuai kemampuan, dengan tetap menghormati privasi dan martabat Shima serta keluarganya. Bantuan yang diberikan secara tepat dan terkoordinasi diharapkan dapat mendukung kebutuhan pendidikan maupun kendala transportasi yang dihadapinya.

Pagi demi pagi, ia mungkin masih harus berjalan dari Binusan. Namun, semoga langkahnya tidak berhenti hanya karena keterbatasan yang sebenarnya dapat diupayakan solusinya bersama.