Kasus ISPA Samarinda Tembus 9.970 per 23 Oktober, Dinkes Minta Warga Gunakan Masker saat Beraktivitas di Luar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus ISPA Samarinda Tembus 9.970 per 23 Oktober, Dinkes Minta Warga Gunakan Masker saat Beraktivitas di Luar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus ISPA Samarinda Tembus 9.970 per 23 Oktober, Dinkes Minta Warga Gunakan Masker saat Beraktivitas di Luar

Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA – Masifnya bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta fenomena cuaca kering yang melanda wilayah Kota Samarinda berdampak langsung pada lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat, rekapitulasi sementara kasus ISPA sejak awal Oktober hingga tanggal 23 Oktober 2026 telah menembus angka 9.970 kasus.

Meskipun angka tersebut terbilang tinggi, Dinkes Samarinda memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dasar, terutama Puskesmas di area terdampak Karhutla, disiagakan secara penuh untuk mengantisipasi lonjakan pasien.

Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih, mengonfirmasi bahwa penanganan dampak kesehatan akibat Karhutla merupakan bagian dari komitmen penanggulangan bencana terpadu bersama Satuan Tugas (Satgas) daerah.

“Dalam keadaan bencana Karhutla ini, kami masuk dalam Satgas dan menjadi kewajiban kami untuk bersiaga," ujar Ismid, Senin (26/10/2026). 

Ia menegaskan tenaga medis dan perawat di kawasan yang rawan Karhutla, seperti Puskesmas Makroman dan Puskesmas Palaran, tetap menjalankan penanganan intensif sesuai tupoksinya. 

Ismid menjelaskan bahwa dari data rekapitulasi periode 1 hingga 23 Oktober, penderita ISPA didominasi oleh kelompok usia anak-anak serta usia produktif. Hal ini disebabkan oleh tingginya proporsi populasi pada rentang usia tersebut serta intensitas mobilitas dan aktivitas di luar ruangan yang memicu paparan asap secara langsung.

Menyikapi tren kenaikan kasus ini, Dinkes Samarinda mengimbau masyarakat luas, khususnya para pelajar dan pekerja lapangan, untuk kembali meningkatkan kedisiplinan penggunaan masker saat berada di luar rumah.

“Anak-anak dan warga usia produktif menjadi kelompok yang paling banyak terpapar karena aktivitas harian mereka, seperti sekolah dan bekerja, mengharuskan kontak langsung dengan kondisi cuaca di luar," terangnya. 

Berdasarkan data rekapitulasi kasus ISPA di Kota Samarinda selama beberapa bulan terakhir, terjadi tren fluktuasi yang dipengaruhi oleh dinamika cuaca daerah:
 * Juli: 8.610 kasus
 * Agustus: 10.681 kasus
 * September: 12.819 kasus
 * Oktober (per 23 Oktober): 9.970 kasus

Meski Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Samarinda dinilai masih relatif lebih terkendali dibandingkan dengan provinsi tetangga, Samarinda juga merupakan salah satu wilayah dari tujuh provinsi yang mendapat perhatian (concern) khusus dari Kementerian Kesehatan RI terkait penanganan dampak karhutla.  

“Kami sangat mengimbau masyarakat untuk tetap konsisten menggunakan masker saat beraktivitas di luar gedung,” tegasnya,” pungkas Ismid. (Adv)