Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Pesatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong mahasiswa meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis dan integritas akademik.
Ini disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dalam seminar nasional dan ruang dialog bertajuk Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan bertema "Cerdas Berteknologi, Bijak Berinovasi: Peran Mahasiswa di Era Kecerdasan Buatan" tersebut diikuti sekitar 150 mahasiswa.
Program ini merupakan bagian dari aspirasi Hetifah melalui Kementerian Agama RI yang bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI).
Dalam pemaparannya, Hetifah menjelaskan bahwa perkembangan AI membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengakses pengetahuan dan meningkatkan produktivitas.
Namun, perubahan teknologi juga menuntut perguruan tinggi menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan zaman.
Berdasarkan materi presentasi yang disampaikan, hampir 87 persen pekerja pengetahuan (knowledge worker) di Indonesia disebut telah menggunakan AI dalam pekerjaan.
Sebanyak 83 persen di antaranya memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas.
Di lingkungan perguruan tinggi, sebanyak 93,4 persen institusi disebut telah menerapkan sistem teknologi informasi dan 92,9 persen menggunakan pembelajaran hibrida.
Sementara itu, 68,1 persen kampus berencana mengadopsi teknologi AI generatif dalam tiga tahun ke depan.
Mengutip proyeksi World Economic Forum (WEF) 2025 dalam materi tersebut, sebanyak 170 juta pekerjaan baru diperkirakan tercipta, sedangkan 92 juta pekerjaan berpotensi tergantikan.
Perubahan ini menuntut mahasiswa memperkuat kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, literasi digital, kolaborasi, dan adaptasi.
Hetifah menekankan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk memahami materi, menyusun kerangka penelitian, dan merangkum bahan bacaan, tetapi tetap harus memeriksa kebenaran informasi yang diperoleh.
"Teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi integritas akademik tidak boleh ditinggalkan," pesan Hetifah kepada mahasiswa.
Selain membahas perkembangan teknologi, Hetifah turut menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan Islam agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam pengetahuan sekaligus memiliki akhlak mulia.
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur (Kaltim) ini, mengapresiasi keberadaan STIS Hidayatullah Balikpapan yang dinilainya memiliki praktik baik untuk menjadi pembelajaran bagi perguruan tinggi Islam lainnya.
"Saya bangga dapat hadir di Hidayatullah karena tempat ini merupakan contoh praktik baik yang dapat diadopsi oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam lainnya. Harapannya, hal-hal positif dapat dipertahankan dan ditiru, serta kekurangan yang ada dapat diselesaikan bersama-sama," ujar Hetifah.
Menurutnya, pengembangan pendidikan Islam perlu dilakukan melalui evaluasi dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
Dengan begitu, perguruan tinggi Islam dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjawab tantangan perkembangan zaman.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Arfan menyambut positif kegiatan tersebut.
Ia menyampaikan terima kasih atas materi dan wawasan yang diberikan, terutama mengenai pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pendidikan serta kegiatan dakwah.
"Alhamdulillah, saya dan kawan-kawan berterima kasih banyak atas kehadiran Bunda di tempat ini yang telah memberikan banyak pencerahan," kata Ustadz Arfan didampingi Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Muhammad Rizky Kurnia Sah.
Dalam sesi diskusi, tenaga profesional kecerdasan buatan, Bambang Herlandi, juga menjelaskan pentingnya validitas data.
Ia mengingatkan mahasiswa agar memeriksa informasi yang dihasilkan AI melalui sumber resmi dan tepercaya, terutama saat menggunakan data statistik dalam tugas maupun penelitian.
Melalui kegiatan NGOPI, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan AI secara produktif, menjaga integritas akademik, dan tetap menjunjung nilai-nilai keislaman dalam menghadapi perkembangan teknologi.


