Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA — Fenomena perubahan warna air Sungai Karang Mumus (SKM) menjadi hijau pekat kembali terjadi di sejumlah titik dalam beberapa hari terakhir.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda memastikan akan segera menerjunkan tim ke lapangan guna memastikan penyebab pasti perubahan warna air tersebut.
Berdasarkan pantauan pusaranmedia pada Senin (26/10/2026), penampakan air hijau terpampang jelas di beberapa titik pemantauan seperti Jalan S. Parman, Jalan Gelatik hingga kawasan Dr Soetomo.
Sementara kondisi air yang relatif mendekati normal tampak di kawasan Jalan Tarmidi dengan dominasi warna coklat meski tetap menyisakan semburat hijau.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) DLH Kota Samarinda, Tri Ayu Wulandari menduga fenomena tersebut erat kaitannya dengan dampak musim kemarau serta siklus pasang surut air Sungai Mahakam.
Namun, Ayu menegaskan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal tersebut. "Secara teori, air berwarna hijau di sungai umumnya berkaitan dengan pertumbuhan alga atau lumut di bagian dasar. Terlebih saat ini kita sedang menghadapi musim kemarau," ujar Ayu saat dikonfirmasi di ruangannya, Selasa (27/10/2026).
Meski indikasi awal mengarah pada faktor pertumbuhan alga akibat tingginya intensitas cahaya matahari yang menembus dasar sungai yang surut, pihak DLH menegaskan tidak ingin berspekulasi.
DLH akan melakukan peninjauan langsung serta mengambil sampel air (contoh uji) untuk diuji secara intensif di laboratorium.
Langkah ini diperlukan untuk memastikan apakah warna hijau tersebut murni fenomena alam akibat ledakan populasi alga atau justru dipicu oleh adanya kontribusi limbah dari aktivitas usaha di sekitar bantaran sungai.
"Kita tidak bisa langsung menyimpulkan sebelum melakukan pengecekan langsung," tegasnya.
Ayu menjelaskan, perubahan warna air sungai tersebut biasanya bersifat sementara dan tidak terjadi secara terus-menerus sepanjang hari. Karakteristik SKM yang bermuara langsung ke Sungai Mahakam membuat dinamika arus pasang surut sangat berperan dalam proses pembersihan alami.
Pihak DLH mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan menunggu hasil uji laboratorium resmi sebelum menggunakan air sungai selama fase air berwarna hijau pekat tersebut berlangsung.
Setidaknya, DLH memerlukan waktu 14 hari kerja hingga hasil penelitian didapatkan. "Kami akan turun ke lapangan dan mengambil contoh uji air untuk mengetahui kualitasnya secara pasti," pungkasnya. (Adv)


