Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mendorong penguatan wawasan kebangsaan dan pembinaan generasi muda sebagai langkah mencegah penyebaran paham radikalisme. Upaya ini menyasar pelajar, mahasiswa hingga organisasi kemasyarakatan.
Langkah tersebut dibahas dalam Sosialisasi Deteksi Dini Penyebaran Paham Radikalisme yang digelar Pemkot Bontang bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bontang di Gedung MUI, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda itu dibuka Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dasuki mewakili Wali Kota Bontang. Hadir pula unsur TNI-Polri, perangkat daerah, pengurus pondok pesantren, serta organisasi kemasyarakatan.
Dalam sambutannya, Dasuki menyebut Kota Bontang memiliki sekitar 52.000 pemuda berusia 16–30 tahun. Jumlah tersebut menjadi potensi besar yang perlu diarahkan melalui kegiatan produktif, pendidikan dan penguatan karakter agar tidak mudah terpengaruh paham yang mengarah pada sikap eksklusif dan intoleran.
Menurutnya, pencegahan radikalisme tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi. Pemerintah juga perlu menyediakan ruang bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan, memperluas pergaulan dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial maupun ekonomi.
Dasuki menilai generasi muda perlu memiliki mental tangguh dan berani mengambil peluang di berbagai sektor.
Ia mendorong pemuda Bontang tidak hanya bergantung pada pekerjaan di industri besar, tetapi juga mengembangkan keterampilan, merintis usaha mikro, kecil dan menengah, serta terlibat dalam ekonomi kreatif.
Pemkot Bontang, lanjutnya, telah menyediakan sejumlah fasilitas dan program untuk mendukung pengembangan pemuda. Di antaranya Rumah Kreasi Milenial, fasilitas kepemudaan di perpustakaan daerah, pelatihan kerja hingga program pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri, termasuk Jepang.
“Paham radikal itu pada dasarnya adalah cara pandang di mana orang merasa paling benar sendiri, menyendiri, dan gemar menyalahkan kelompok lain seperti halnya karakteristik kaum Khawarij di masa lalu,” ujar Dasuki.
Ia juga mengingatkan pemuda agar lebih selektif dalam menerima informasi, terutama melalui media sosial. Kemampuan memilah informasi dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh disinformasi maupun ajakan yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
Dasuki turut mendorong masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, untuk mempelajari agama melalui guru yang memiliki kompetensi dan kejelasan sanad keilmuan. Selain itu, solidaritas antarteman perlu diperkuat agar lingkungan pergaulan tetap terbuka dan saling mendukung.
Sementara itu, Ketua MUI Kota Bontang, K.H. Misbahul Munir, menegaskan pentingnya menjaga persatuan bangsa melalui nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia mengingatkan penyebaran paham ekstrem dapat menyasar kelompok usia muda, termasuk pelajar dan mahasiswa. Salah satu hal yang perlu diwaspadai ialah aktivitas kelompok tertutup yang menanamkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan para pendiri bangsa.
“Organisasi apa pun yang tidak berlandaskan Pancasila tidak layak hidup di Indonesia. Kita harus merapatkan barisan menjaga NKRI agar generasi muda kita tidak menjadi perongrong bangsa dan negara,” tegasnya.
Misbahul Munir juga mengapresiasi dukungan Pemkot Bontang dalam penyelenggaraan pembinaan umat tersebut.
Dalam kegiatan itu, materi mengenai wawasan kebangsaan dan pencegahan radikalisme disampaikan oleh Plh Kasatgaswil Kaltim Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Joko Dwi Harsono, bersama Panit Idensos Satgaswil Kaltim Densus 88, Andi Husin.
Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap generasi muda Bontang mampu mengenali potensi penyebaran paham radikal sejak dini, menjaga toleransi, serta berperan aktif mempertahankan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.


