Reporter: Adi Kade | Editor: Buniyamin
PENAJAM - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sedang menghadapi tekanan krisis air baku akibat kemarau.
Menurunnya pasokan air baku di aliran Sungai Lawe-Lawe mengakibatkan produksi air bersih di Water Treatment Plant (WTP) Lawe-Lawe turun drastis sehingga layanan air bersih kepada sekitar 40 ribu warga Kecamatan Penajam yang berada dalam layanan Perumda AMDT mengalami gangguan pasokan air bersih.
“Kapasitas produksi air bersih WTP Lawe-Lawe tersisa 10 persen dari kondisi normal 170 liter per detik, karena selama musim kemarau ini pasokan air baku turun drastis,” kata Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid, Rabu (28/10/2026).
Selain WTP Lawe-Lawe, kata Abdul Rasyid, WTP Waru juga masuk dalam kategori rentan krisis air baku. Karena, Embung Waru sebagai sumber air baku WTP Waru telah mengalami penyusutan yang cukup signifikan.
Volume air Embung Waru telah menyusut dari 3 meter menjadi 1,27 meter. Penurunan pasokan air baku WTP Waru juga akan berdampak terhadap pasokan layanan air bersih kepada masyarakat Kecamatan Waru.
“Kalau air baku WTP Waru terus menyusut, layanan air bersih dari WTP Waru ke wilayah Petung, Kecamatan Penajam juga akan terganggu,” terangnya.
Abdul Rasyid berharap Pemkab PPU dan DPRD memberikan dukungan percepatan penanganan krisis air baku agar pasokan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan di musim kemarau ini.
“Kami berharap ada dukungan anggaran untuk percepatan penanganan krisis air baku yang saat ini terjadi di PPU, terutama WTP Lawe-Lawe, WTP Waru dan WTP Sotek,” terangnya.
Untuk mengatasi krisis air baku, lanjut Abdul Rasyid, Perumda AMDT bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) PPU saat ini sedang melakukan normalisasi kolam retensi seluas 17 Hektare (Ha) di dekat Bendungan Lawe-Lawe.
“Normalisasi kolam retensi ini dilakukan agar daya tampung air bertambah dan salah satu upaya mengantisipasi krisis air baku di tahun berikutnya,” pungkasnya.


