NGOPI Bersama GTK Madrasah Balikpapan, Hetifah Soroti Kesenjangan Digital dan Kompetensi Guru

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca5 kali dibaca
Anggota Komisi VII DPR RI, Hetifah Sjaifudian memaparkan materi dalam kegiatan NGOPI bersama GTK madrasah Balikpapan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi VII DPR RI, Hetifah Sjaifudian memaparkan materi dalam kegiatan NGOPI bersama GTK madrasah Balikpapan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

NGOPI Bersama GTK Madrasah Balikpapan, Hetifah Soroti Kesenjangan Digital dan Kompetensi Guru

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca5 kali dibaca
Anggota Komisi VII DPR RI, Hetifah Sjaifudian memaparkan materi dalam kegiatan NGOPI bersama GTK madrasah Balikpapan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi VII DPR RI, Hetifah Sjaifudian memaparkan materi dalam kegiatan NGOPI bersama GTK madrasah Balikpapan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

NGOPI Bersama GTK Madrasah Balikpapan, Hetifah Soroti Kesenjangan Digital dan Kompetensi Guru

5
Anggota Komisi VII DPR RI, Hetifah Sjaifudian memaparkan materi dalam kegiatan NGOPI bersama GTK madrasah Balikpapan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi VII DPR RI, Hetifah Sjaifudian memaparkan materi dalam kegiatan NGOPI bersama GTK madrasah Balikpapan, Rabu (28/10/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian menyoroti kesenjangan akses teknologi digital di madrasah, termasuk belum meratanya fasilitas pembelajaran interaktif. 

Ia mendorong peningkatan kompetensi guru agar mampu memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran tanpa mengabaikan pendidikan karakter dan etika.

Ini disampaikan Hetifah dalam seminar nasional dan dialog Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) bersama Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah di Hotel Horison Ultima Bandara Balikpapan, Rabu (28/10/2026). 

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 GTK madrasah se-Kota Balikpapan dengan tema "Penguatan Kompetensi Guru Madrasah dalam Menghadapi Transformasi Pendidikan Digital".

Program tersebut merupakan bagian dari aspirasi Hetifah melalui program Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia yang bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI).

Dalam forum itu, Hetifah menyinggung belum meratanya dukungan fasilitas teknologi untuk madrasah. 

Ia mencontohkan papan interaktif digital yang belum tersedia di sejumlah satuan pendidikan. Belum tersedianya fasilitas teknologi itu dibenarkan oleh peserta. 

Ketika menanyakan fasilitas tersebut, maka para guru yang hadir kompak menjawab belum memilikinya.

Menurut Hetifah, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar madrasah dan pesantren tidak tertinggal ketika fasilitas serupa mulai tersedia di sekolah-sekolah lain.

"Jadi mungkin ini salah satu tugas saya untuk memastikan jangan sampai ketika Dirjen baru sudah terbentuk, semua sekolah sudah mendapat satu, lalu ditambah tiga, ternyata madrasah atau pesantren belum tersentuh," ucap Hetifah.

Ia menilai madrasah dan pesantren memiliki peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Timur (Kaltim).

Karena itu, keterbatasan fasilitas dan kompetensi digital perlu diatasi agar lulusan pendidikan Islam mampu bersaing, sekaligus memiliki akhlak mulia dan integritas.

Hetifah juga menyoroti besarnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurutnya, sebagian besar madrasah di Kaltim merupakan lembaga swasta. 

Kondisi itu menunjukkan kontribusi masyarakat yang perlu diapresiasi melalui dukungan dan insentif pemerintah.

Di tengah perkembangan teknologi, Hetifah mengingatkan agar guru tidak hanya memandang AI dari sisi manfaat maupun risikonya, tetapi juga membekali diri dengan keterampilan untuk menggunakannya secara tepat.

Ia menyinggung berbagai tantangan yang dihadapi peserta didik di ruang digital, seperti perundungan siber, pornografi, pinjaman online hingga judi online. 

Karena itu, pengenalan teknologi perlu disertai pemahaman mengenai etika, bahaya, serta kemampuan berpikir kritis.

Hetifah turut mencontohkan penggunaan AI untuk membantu guru merancang kegiatan pembelajaran yang lebih kreatif. 

Misalnya, guru dapat memanfaatkan teknologi untuk mencari ide diskusi mengenai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, seperti sikap ketika menemukan uang di kelas atau saat menerima nilai yang tidak sesuai dengan hasil pekerjaan.

Dalam kegiatan tersebut, Bambang Herlandi hadir sebagai pemateri untuk berbagi pengalaman mengenai literasi digital dan pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan.

Ia mengatakan peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu hal yang perlu terus diperjuangkan. 

Hetifah juga menyampaikan komitmen untuk mendorong kemajuan madrasah di Kaltim serta menjadikan kesejahteraan guru sebagai perhatian bersama.

Dalam NGOPI ini, Hetifah menegaskan, perkembangan teknologi harus tetap disertai tanggung jawab dan nilai moral.

"Teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi integritas tidak boleh ditinggalkan," pesannya.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan, Masrivani menekankan pentingnya keteladanan guru di tengah kemudahan akses informasi melalui teknologi.

Menurutnya, peserta didik kini dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber. 

Namun, pembentukan karakter tetap membutuhkan contoh nyata dari guru dalam kehidupan sehari-hari.

"Informasi pengetahuan bisa didapat dari mana saja. Tapi ada satu yang tidak bisa didapat oleh anak-anak kita melalui teknologi yang ada, adalah keteladanan. Jadikanlah guru-guru itu sumber satu-satunya keteladanan," kata Masrivani.

Ia mengingatkan para tenaga pendidik agar memahami kurikulum berbasis cinta yang ditekankan dalam pendidikan madrasah. 

Menurutnya, kemajuan teknologi harus tetap diimbangi pembentukan karakter dan nilai-nilai keagamaan agar peserta didik tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik.

Masrivani menyebut terdapat sekitar 75 lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag Balikpapan, mulai dari Raudhatul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah (MA). 

Keberadaan lembaga-lembaga tersebut menjadi bagian penting dalam upaya membentuk karakter generasi muda.

Melalui NGOPI bersama GTK Madrasah, penguatan kompetensi guru diharapkan dapat berjalan seiring dengan pemerataan akses teknologi dan pembentukan karakter peserta didik.