Camat Maratua Tak Ingin Warganya Hanya Jadi Penonton di Tengah Ramainya Bisnis Wisata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca3 kali dibaca
Pulau Maratua. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Pulau Maratua. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Camat Maratua Tak Ingin Warganya Hanya Jadi Penonton di Tengah Ramainya Bisnis Wisata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca3 kali dibaca
Pulau Maratua. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Pulau Maratua. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Camat Maratua Tak Ingin Warganya Hanya Jadi Penonton di Tengah Ramainya Bisnis Wisata

3
Pulau Maratua. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Pulau Maratua. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Ramainya investasi pariwisata di Pulau Maratua membawa peluang ekonomi baru. Namun, di balik pertumbuhan penginapan, jasa transportasi laut hingga layanan wisata, ada persoalan yang mulai menjadi perhatian pemerintah kecamatan, yaitu jangan sampai masyarakat lokal justru kehilangan ruang untuk mencari nafkah di tanahnya sendiri.

Perubahan ekonomi masyarakat Maratua yang sebelumnya banyak bergantung pada hasil laut kini semakin mengarah ke sektor pariwisata. Warga mulai membangun penginapan, menawarkan jasa pemandu wisata, hingga menyediakan transportasi bagi wisatawan.

Namun, Camat Maratua, Ashari, mengingatkan bahwa perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan aturan yang mampu menjaga keterlibatan masyarakat setempat. Masuknya investor dari luar daerah, menurutnya, jangan sampai membuat pelaku usaha lokal kesulitan bersaing.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Berau segera merumuskan regulasi yang mengatur keterlibatan pelaku usaha luar daerah dalam pengembangan pariwisata Maratua. Bukan untuk menutup investasi, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi juga dirasakan masyarakat yang selama ini tinggal dan menggantungkan hidup di pulau tersebut.

“Investor dari luar tetap boleh masuk. Tetapi masyarakat setempat jangan sampai kehilangan kesempatan untuk menjalankan usahanya. Mereka harus mendapat ruang dan perlindungan dalam perkembangan pariwisata ini,” tegas Ashari.

Persoalan ini tidak sekadar menyangkut persaingan bisnis. Ashari menilai, ketika masyarakat lokal kehilangan sumber penghasilan dari sektor wisata, dampaknya bisa merembet ke persoalan lingkungan.

Salah satu kekhawatiran yang disorot adalah kemungkinan sebagian warga kembali mengandalkan aktivitas penangkapan ikan secara tidak ramah lingkungan. Tekanan ekonomi berpotensi mendorong penggunaan potasium untuk memperoleh hasil tangkapan secara instan.

Padahal, praktik tersebut dapat merusak terumbu karang. Kerusakan ekosistem laut bukan hanya mengancam kehidupan biota, tetapi juga mengurangi daya tarik utama Maratua sebagai destinasi wisata bahari.

Di sisi lain, kondisi geografis Maratua sebagai pulau terluar yang berjarak sekitar empat jam perjalanan menggunakan speedboat dari Malaysia juga menjadi perhatian. Menurut Ashari, penguatan ekonomi masyarakat dan pengawasan wilayah perlu berjalan beriringan untuk mengantisipasi berbagai kerawanan, termasuk potensi penyelundupan dan peredaran narkoba.

Karena itu, ia berharap pengembangan pariwisata Maratua tidak hanya diukur dari banyaknya investasi yang masuk atau bertambahnya fasilitas wisata. Keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai usaha juga harus menjadi bagian penting dari pembangunan sektor tersebut.

Salah satu skema yang dapat dipertimbangkan pemerintah daerah ialah mewajibkan kemitraan antara investor dari luar dengan pelaku usaha setempat. Melalui pola kerja sama itu, masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga memiliki kesempatan terlibat sebagai mitra usaha.

Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata Maratua diharapkan mampu menciptakan pemerataan manfaat ekonomi. Investasi tetap berjalan, masyarakat memperoleh ruang berkembang, sementara kelestarian lingkungan laut dan keamanan kawasan tetap terjaga.