Seperti Apa Demokrasi Berkualitas? Ini Pandangan Pemerhati di Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca4 kali dibaca
Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Seperti Apa Demokrasi Berkualitas? Ini Pandangan Pemerhati di Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca4 kali dibaca
Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Seperti Apa Demokrasi Berkualitas? Ini Pandangan Pemerhati di Balikpapan

4
Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Demokrasi tidak sekadar memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapat. 

Lebih dari itu, demokrasi juga membutuhkan gagasan yang kuat, argumentasi yang rasional, serta kemampuan menghargai perbedaan pandangan.

Pemerhati demokrasi asal Balikpapan, Johan menilai kualitas demokrasi perlu dibangun melalui ruang diskusi yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk menyampaikan pemikirannya secara terbuka.

Menurutnya, salah satu bentuk penerapan demokrasi dapat dilihat melalui kompetisi debat. 

Dalam forum tersebut, peserta tidak hanya dituntut menyampaikan pendapat, tetapi juga harus mampu mempertahankan argumentasi dan memberikan sanggahan terhadap pandangan orang lain.

"Yang kami harapkan bukan hanya jumlah partisipasi peserta debat yang diperbanyak, tetapi juga kualitas argumentasi yang dibangun dari masing-masing peserta dipertajam," ucap Johan, Jumat (30/10/2026).

Ia mengatakan, kemampuan berargumentasi membutuhkan persiapan materi yang matang. 

Peserta harus menguasai persoalan yang dibahas sehingga gagasan maupun sanggahan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas.

Di tengah perkembangan teknologi dan demokrasi digital, Johan juga melihat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung dalam membangun argumentasi.

Teknologi tersebut bisa membantu mencari data dan referensi. Namun, informasi yang diperoleh tetap harus diverifikasi agar tidak menimbulkan kesalahan dalam menyampaikan pendapat.

"AI itu dijadikan sebagai alat bantu bagi seluruh peserta debat untuk menemukan data dan referensi. Tetapi data maupun referensi yang diperoleh tidak mesti diterima mentah-mentah, perlu diverifikasi untuk memastikan kebenaran informasi," jelasnya.

Johan juga menilai kemampuan berbicara di depan umum, kualitas argumentasi, konsistensi terhadap topik pembahasan, serta ketepatan menjawab sanggahan menjadi bagian penting dalam membangun diskusi yang berkualitas.

Karena itu, ia berharap perguruan tinggi di Balikpapan semakin aktif mendorong mahasiswa mengikuti berbagai kompetisi, terutama yang berkaitan dengan demokrasi dan kepemiluan.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang menguji kemampuan mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi sarana menyebarluaskan gagasan dan pemikiran kritis kepada masyarakat.

"Saya berharap pemahaman mengenai demokrasi tidak berhenti pada kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga diikuti kemampuan membangun argumentasi yang berkualitas dan bertanggung jawab," harapannya.