Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Buku yang sudah tidak digunakan di rumah ternyata masih bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Melalui program Donasi Buku Masyarakat (SiKuMas), Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Balikpapan mengajak masyarakat berbagi bahan bacaan untuk memperluas akses literasi.
Kepala Dispustakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu mengatakan program tersebut mengusung konsep dari masyarakat untuk masyarakat.
Buku yang disumbangkan warga nantinya akan diseleksi dan disalurkan kembali, terutama untuk mendukung kebutuhan pojok baca dan taman baca masyarakat.
Menurut Neny, partisipasi masyarakat dalam program ini terus berjalan.
Bahkan, setiap hari selalu ada warga yang datang untuk menyumbangkan buku, baik dalam kondisi baru maupun bekas selama masih layak dibaca.
"Setiap hari ada saja warga yang melakukan donasi buku. Jadi, konsepnya dari masyarakat untuk masyarakat," ucap Neny, Jumat (30/10/2026).
Untuk menampung sumbangan tersebut, Dispustakar menyediakan fasilitas khusus bernama bank buku.
Seluruh buku yang diterima terlebih dahulu melalui proses pendataan dan pemilahan sebelum ditentukan pemanfaatannya.
Neny menjelaskan, buku yang belum dimiliki perpustakaan dan sesuai kebutuhan koleksi akan dimanfaatkan untuk menambah bahan bacaan.
Sementara buku yang tidak masuk dalam koleksi perpustakaan tetap berpeluang disalurkan ke tempat lain, seperti lingkungan Rukun Tetangga (RT) maupun sekolah.
Jenis buku yang dapat disumbangkan cukup beragam. Mulai dari buku fiksi seperti novel, cerita pendek, cerita anak, komik hingga buku nonfiksi berupa pengetahuan umum, ensiklopedia, kamus dan buku hobi.
Meski demikian, terdapat sejumlah ketentuan yang harus diperhatikan pendonor.
Dispustakar tidak menerima buku hasil fotokopi maupun bacaan yang mengandung unsur pornografi, ujaran kebencian, dan konten bermuatan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat menyerahkan buku secara langsung ke Kantor Dispustakar Balikpapan.
Pendonor cukup mengisi data di bagian resepsionis dengan mencantumkan nama, alamat, dan jumlah buku yang disumbangkan, kemudian menempatkannya di bank buku.
Melalui SiKuMas, Neny berharap buku-buku yang sebelumnya hanya tersimpan di rumah dapat kembali dibaca dan memberikan manfaat lebih luas.
Dengan begitu, gerakan literasi tidak hanya bergantung pada fasilitas pemerintah, tetapi juga tumbuh melalui kepedulian dan keterlibatan masyarakat. (Adv)


