Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Persoalan sampah di Kabupaten Berau dinilai bukan lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan. Dengan volume yang mencapai sekitar 54.568 ton per tahun atau setara 150 ton setiap hari, kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah maupun masyarakat.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut angka tersebut harus dilihat sebagai gambaran nyata persoalan persampahan yang terjadi di lapangan, bukan sekadar deretan data statistik.
Menurutnya, jika volume sampah tahunan dibagi berdasarkan jumlah hari dalam setahun, rata-rata sampah yang dihasilkan masyarakat Berau mencapai sekitar 150 ton per hari. Jumlah tersebut menjadi tantangan besar yang membutuhkan perubahan pola pengelolaan secara menyeluruh.
“Ini bukan angka yang main-main. Jangan lagi dijadikan potret statistik semata. Ini sudah menjadi potret realitas kita di lapangan. Hari ini sampah sudah dapat menjadi alarm bagi Kabupaten Berau dan masyarakatnya,” tegas Gamalis.
Ia menilai, salah satu persoalan mendasar yang membuat sampah terus menumpuk adalah pola pikir masyarakat yang masih mengandalkan sistem konvensional, yakni ambil, angkut, lalu buang.
Pola tersebut dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan sampah dengan volume yang terus dihasilkan setiap hari. Sebab, selama masyarakat hanya berorientasi membuang sampah tanpa memikirkan proses pengurangan dan pengelolaannya, beban persampahan akan terus meningkat.
Gamalis menegaskan, perubahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat dalam memperlakukan sampah. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Pola pikir masyarakat kita hari ini masih berputar pada ambil, angkut, buang. Ini pola konvensional yang harus mulai kita ubah,” ujarnya.
Menurutnya, besarnya volume sampah yang dihasilkan setiap hari menjadi pengingat bahwa persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius. Tanpa perubahan kebiasaan dan pendekatan pengelolaan, sampah berpotensi terus menjadi persoalan lingkungan yang semakin sulit dikendalikan. (Adv)



