Banner ADV

Wabup Berau Ajak Anak Sekolah Ubah Pola Pikir, Sampah Bukan Lagi Barang Tak Berguna

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca7 kali dibaca
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Wabup Berau Ajak Anak Sekolah Ubah Pola Pikir, Sampah Bukan Lagi Barang Tak Berguna

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca7 kali dibaca
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Wabup Berau Ajak Anak Sekolah Ubah Pola Pikir, Sampah Bukan Lagi Barang Tak Berguna

7
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah. Perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu kunci agar persoalan sampah di Kabupaten Berau bisa ditangani secara berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat berdialog dengan sejumlah pelajar dalam sesi tanya jawab pada talkshow bertajuk Sampah Bernilai, Wisata Lestari.

Menjawab pertanyaan seorang siswa mengenai alasan masih banyak masyarakat membuang sampah sembarangan, Gamalis menilai hal tersebut tidak lepas dari pola pikir konvensional yang masih menganggap sampah sebagai barang tidak berguna.

Selama ini, sampah cenderung dipandang sebatas sesuatu yang harus dikumpulkan, diangkut, kemudian dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Padahal, jika dikelola dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat, sampah memiliki potensi ekonomi.

“Kalau sampah ini jatuh ke tangan-tangan kreatif, maka akan menjadi sebuah barang yang sangat berharga,” ujarnya.

Menurutnya, edukasi menjadi langkah penting untuk mengubah cara pandang tersebut. Masyarakat, termasuk generasi muda, perlu memahami bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Gamalis juga mencontohkan praktik pengolahan sampah yang dilakukan WWF, Mapan, dan RT8. Menurutnya, berbagai hasil karya yang ditampilkan menjadi bukti bahwa sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.

Ia berharap contoh nyata tersebut dapat menginspirasi masyarakat, khususnya kalangan pelajar, untuk mulai membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak dini.

Melalui dialog bersama pelajar itu, Gamalis juga menekankan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak. 

“Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan tidak cukup hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus tumbuh dari kebiasaan setiap individu,” pungkasnya. (Adv)