Banner ADV

Sampah Punya Nilai Jual, Wabup Berau Minta Produk Daur Ulang Dipromosikan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca5 kali dibaca
Wakil Bupati Berau, menerima souvenir hasil kerajinan tangan berbahan sampah daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai guna. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Berau, menerima souvenir hasil kerajinan tangan berbahan sampah daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai guna. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Sampah Punya Nilai Jual, Wabup Berau Minta Produk Daur Ulang Dipromosikan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca5 kali dibaca
Wakil Bupati Berau, menerima souvenir hasil kerajinan tangan berbahan sampah daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai guna. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Berau, menerima souvenir hasil kerajinan tangan berbahan sampah daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai guna. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Sampah Punya Nilai Jual, Wabup Berau Minta Produk Daur Ulang Dipromosikan

5
Wakil Bupati Berau, menerima souvenir hasil kerajinan tangan berbahan sampah daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai guna. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Berau, menerima souvenir hasil kerajinan tangan berbahan sampah daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai guna. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Sampah tidak selamanya menjadi persoalan lingkungan. Jika dikelola dengan tepat, barang yang selama ini dianggap tidak berguna justru bisa berubah menjadi sumber penghasilan masyarakat. 

Inilah perubahan pola pikir yang ingin didorong Wakil Bupati Berau, Gamalis, dalam pengelolaan sampah di Bumi Batiwakkal.

Gamalis menilai, berbagai produk hasil daur ulang yang ditampilkan dalam kegiatan talkshow bertema sampah bernilai dan wisata lestari menunjukkan bahwa sampah memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan. Mulai dari jepit rambut, gantungan kunci, hingga berbagai aksesori lainnya, menjadi bukti bahwa limbah dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.

Menurutnya, produk-produk tersebut tidak cukup hanya dipamerkan. Masyarakat dan para penggerak pengelolaan sampah perlu mulai mempromosikannya secara lebih luas agar semakin dikenal dan memiliki pasar.

Ia bahkan melihat peluang produk daur ulang tersebut berkembang menjadi identitas tersendiri bagi gerakan peduli lingkungan.

“Ini harus mulai sekarang dipromosikan. Karena produk seperti ini murah, dibuat dari bahan daur ulang, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Selain mengembangkan produk kreatif, Gamalis juga menyoroti pentingnya keberadaan bank sampah sebagai salah satu cara mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan limbah rumah tangga.

Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat memilah sampah sejak dari dapur, kemudian menyetorkannya ke bank sampah untuk dikonversi menjadi saldo tabungan. Dengan begitu, sampah yang sebelumnya hanya dibuang bisa memberikan keuntungan secara langsung bagi rumah tangga.

“Artinya, sampah yang tadinya ada di dapur bisa dijadikan uang, menjadi saldo tabungan. Bahkan mungkin bisa menjadi hadiah atau bentuk penghargaan bagi masyarakat,” jelasnya.

Gamalis menegaskan, tantangan terbesar dalam persoalan sampah bukan semata-mata soal ketersediaan tempat pembuangan maupun fasilitas pengolahan. Lebih dari itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama.

Ia mengajak masyarakat mulai meninggalkan pandangan bahwa sampah merupakan musuh yang harus segera disingkirkan. Sebaliknya, sampah perlu dilihat sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat bagi lingkungan.

“Waktunya kita mengubah kebiasaan. Behavior kita harus berubah, dari sampah sebagai musuh menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna, nilai ekonomi, dan manfaat bagi lingkungan,” tegasnya.

Menurutnya, upaya mengurangi penggunaan plastik juga harus mulai dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban yang membebani masyarakat.

Sebab, ketika sampah dipilah dan dikelola dengan baik, ada peluang ekonomi yang bisa dihasilkan. Karena itu, Gamalis berharap gerakan pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari yang melibatkan masyarakat secara luas.

Dengan demikian, persoalan sampah di Berau tidak hanya ditangani melalui pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga melalui pendekatan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. (Adv)