Reporter: Zulkifli | Editor: Buniyamin
SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda mencapai 353 kejadian sepanjang Januari hingga Oktober 2026.
Dari ratusan kejadian tersebut, total luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 948,90 hHktare (Ha).
Berdasarkan data sementara Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda per 2 November 2026, Kecamatan Sambutan menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 136 kali. Disusul Palaran sebanyak 94 kejadian dan Samarinda Utara dengan 59 kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso mengatakan potensi kebakaran masih cukup tinggi, bahkan hampir terjadi kebakaran di empat lokasi, yakni Pelita 7, Pelita 6, Makroman dan Sungai Kapih sehari sebelumnya.
Sementara titik api terbaru terpantau berada di perbatasan Kelurahan Sindang Sari dan Sidomulyo, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Meski sempat hujan, kondisi tersebut belum sepenuhnya membantu pemadaman karena hujan hanya mengguyur kawasan tengah kota.
"Memang tadi sempat turun hujan, tetapi hujan hanya terjadi di tengah kota. Sementara titik-titik api yang masih menyala tidak terkena hujan," ujar Suwarso.
Dia memastikan seluruh titik api yang sebelumnya terpantau telah berhasil dipadamkan. Tapi, kondisi lahan yang masih kering membuat potensi kebakaran susulan tetap perlu diwaspadai.
"Rumput kering, tanah gambut hingga kandungan batu bara di bawah permukaan tanah menjadi sejumlah faktor yang dapat memicu kebakaran. Selain faktor alam, kebakaran juga berpotensi terjadi akibat unsur kesengajaan manusia," paparnya.
Disebutkan Suwarso, penanganan karhutla selama ini melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur, mulai dari BPBD Samarinda, BPBD Kalimantan Timur, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Relawan Kota Samarinda, Satpol PP hingga unsur TNI dari Kodim dan Korem.
"Tim gabungan tersebut berupaya memastikan setiap kebakaran dapat ditangani sampai tuntas. Bahkan, proses pemadaman terkadang berlangsung hingga dini hari atau pagi hari," katanya.
Terkait dukungan pemerintah pusat, BPBD Samarinda masih menunggu penyaluran bantuan melalui Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim.
Bantuan yang diinformasikan akan diterima sejumlah daerah, termasuk Samarinda bukan berupa uang tunai, melainkan peralatan dan pakaian yang pengadaannya dilakukan BPBD Kaltim.
"Adapun kebutuhan yang diajukan BPBD Samarinda meliputi uang lelah relawan, peralatan pemadaman, logistik dan APD," sebutnya.


