Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Balikpapan masih menunjukkan pertumbuhan positif pada triwulan III 2026 ini.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti penguatan penghimpunan dana masyarakat yang justru mengalami penurunan.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan, penyaluran kredit di wilayah yang mencakup Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser mencapai Rp42,53 triliun.
Angka tersebut tumbuh 7 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Tapi, pertumbuhannya melambat dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 17,66 persen (YoY), dengan nominal kredit sebesar Rp41,51 triliun.
"Penyaluran kredit yang tetap tumbuh positif menunjukkan masih aktifnya peran perbankan dalam mendukung peningkatan aktivitas usaha dan perekonomian daerah," jelas Robi, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, pertumbuhan kredit tersebut turut mendukung aktivitas sektor riil, penciptaan lapangan kerja hingga pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan ekonomi global.
Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi penopang utama dengan pangsa 39,88 persen dari total kredit. Penyalurannya tumbuh 7,86 persen (YoY), didukung berlanjutnya investasi pada proyek konstruksi dan hilirisasi industri.
Sementara itu, kredit konsumsi yang memiliki pangsa 35,60 persen tumbuh 6,43 persen (YoY). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,95 persen, sejalan dengan daya beli masyarakat yang masih terjaga.
Adapun kredit modal kerja tumbuh 6,46 persen (YoY), yang antara lain digunakan pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan operasional, pembelian bahan baku dan pengelolaan persediaan barang.
Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha, maka penyaluran kredit masih terkonsentrasi pada sektor konstruksi sebesar 18,40 persen, perdagangan 14,67 persen, dan pertanian 11,12 persen.
Kredit perdagangan mencatat pertumbuhan 12,62 persen (YoY), sedangkan sektor pertanian tumbuh 4,67 persen. Keduanya mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Di sisi lain, kredit konstruksi mengalami kontraksi 2,17 persen (YoY). Kondisi tersebut terutama dipengaruhi aktivitas pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang masih terbatas.
Selain kredit secara umum, pembiayaan kepada sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) juga menunjukkan perkembangan positif.
Penyalurannya mencapai Rp12,88 triliun atau tumbuh 0,34 persen (YoY), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp12,79 triliun.
Kualitas kredit UMKM turut membaik. Ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) UMKM yang turun dari 4,2 persen menjadi 3,6 persen.
Meski penyaluran kredit masih tumbuh, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mengalami tekanan.
Pada triwulan III 2026, DPK tercatat sebesar Rp44,58 triliun atau turun 10,42 persen (YoY), padahal pada triwulan sebelumnya penghimpunan DPK masih mencapai Rp49,52 triliun.
Penurunan DPK tersebut menjadi perhatian karena penguatan dana masyarakat diperlukan untuk menopang penyaluran kredit agar dapat tumbuh lebih tinggi.
Robi menambahkan, ketahanan perbankan di wilayah kerja BI Balikpapan masih terjaga. Ini terlihat dari rasio NPL perbankan yang membaik menjadi 2,34 persen dibanding triwulan sebelumnya sebesar 2,57 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah batas yang disyaratkan sebesar 5 persen.
Ke depan, BI Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, perbankan dan mitra strategis untuk mendorong intermediasi perbankan yang optimal, inklusif, serta berkualitas.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pembiayaan sektor usaha, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.


