Banner ADV

Wabup Soroti Tantangan Sampah Berau, Bukan Hanya Diolah Tapi Harus Punya Pasar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca9 kali dibaca
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Wabup Soroti Tantangan Sampah Berau, Bukan Hanya Diolah Tapi Harus Punya Pasar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca9 kali dibaca
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Wabup Soroti Tantangan Sampah Berau, Bukan Hanya Diolah Tapi Harus Punya Pasar

9
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Mengubah sampah menjadi barang bernilai ekonomi ternyata tidak cukup hanya bermodalkan kreativitas. Perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah hingga ketersediaan pasar untuk produk daur ulang menjadi tantangan yang harus dijawab bersama.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat berdialog dengan para pelajar dalam sesi tanya jawab pada kegiatan talkshow bertema pengelolaan sampah dan wisata lestari.

Di hadapan peserta, Gamalis menekankan bahwa persoalan sampah harus dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan masing-masing. Masyarakat perlu membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan sekaligus membiasakan pemilahan berdasarkan jenisnya.

Menurutnya, sampah organik, anorganik, plastik, kertas hingga limbah yang berpotensi membahayakan kesehatan harus dipisahkan agar lebih mudah ditangani dan dimanfaatkan kembali.

Namun, perubahan perilaku tersebut perlu didukung fasilitas pengelolaan yang memadai. Ia mengakui, keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala dalam mendukung aktivitas masyarakat maupun kelompok penggerak pengolahan sampah.

Selain persoalan kebiasaan dan fasilitas, Gamalis turut menyoroti tantangan yang tidak kalah penting, yakni pemasaran produk hasil daur ulang.

Ia menilai, kreativitas masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu yang mampu mengolah sampah menjadi berbagai kerajinan bernilai jual, harus diikuti dengan kepastian akses pasar.

“Ketika sampah sudah diolah menjadi barang berharga, pertanyaan berikutnya adalah mau dipasarkan ke mana? Ini juga menjadi tantangan. Kita harus mulai memikirkan pangsa pasarnya,” ujarnya.

Gamalis melihat, upaya mengembangkan produk daur ulang tidak boleh berhenti pada proses produksi semata. Hasil kerajinan perlu mendapat ruang promosi dan jaringan pemasaran agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan begitu, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi gerakan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga berpeluang membuka sumber pendapatan baru.

Melalui dialog bersama pelajar tersebut, ia berharap kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh sejak dini. Sebab, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. (Adv)