Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan melakukan kajian teknis terhadap kondisi turapan di sisi ujung Taman Musik Tenggarong, tepatnya di depan kantor Telkomsel, Jalan S Parman, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, yang mengalami amblas.
Kajian tersebut dilakukan untuk menentukan metode perbaikan yang tepat, apakah konstruksi turapan yang ada masih memungkinkan untuk diperbaiki atau harus dibongkar dan dibangun kembali dengan konstruksi baru.
Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum (PU) Kutai Kartanegara (Kukar) Wiyono, mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan kalangan akademisi guna mendapatkan rekomendasi teknis terkait kondisi turapan tersebut.
Menurutnya, secara perencanaan maupun pelaksanaan konstruksi, pembangunan turapan sebelumnya relatif telah memenuhi ketentuan teknis. Namun, kondisi alam diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya amblas.
"Secara teknis, baik perencanaan maupun konstruksinya relatif sudah sesuai dengan ketentuan. Hanya saja, kemungkinan ini masalah alam. Saat ini kami sedang berkoordinasi dengan pihak akademisi untuk melakukan kajian," ujarnya dilokasi Taman Musik Tenggarong. Selasa (3/10/2026)
Wiyono menjelaskan, hasil kajian nantinya menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan. Jika konstruksi lama masih memungkinkan dipertahankan, perbaikan akan dilakukan dengan metode yang sesuai. Namun, apabila kondisinya sudah tidak memungkinkan, pembongkaran dan pembangunan ulang bisa menjadi pilihan.
Ia menegaskan, perbaikan harus mempertimbangkan kekuatan konstruksi agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi. Terlebih, apabila kondisi tanah maupun lingkungan di lokasi tersebut membutuhkan penanganan khusus, maka diperlukan konstruksi perkuatan tambahan.
"Kalau memang harus dibangun kembali, kita berharap konstruksinya tidak mengalami kejadian serupa. Artinya, harus ada perkuatan-perkuatan tertentu. Ini yang membuat pembiayaannya bisa berbeda karena konstruksinya harus lebih kuat," jelasnya.
Terkait anggaran, Wiyono menyebut hingga kini belum dapat memastikan besaran biaya yang dibutuhkan. Pemerintah masih menunggu hasil kajian untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus metode penanganan yang paling efektif.
Menurutnya, keputusan perbaikan tidak boleh terburu-buru hanya dengan mempertimbangkan biaya awal. Sebab, pemerintah juga harus memastikan hasil pekerjaan nantinya benar-benar mampu bertahan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Wiyono menyebut keberadaan Taman Musik dan kawasan sekitarnya memiliki peran penting sebagai salah satu wajah Kota Tenggarong. Kawasan tersebut menjadi bagian dari ruang publik sekaligus penunjang aktivitas wisata masyarakat.
Ia berharap penataan kawasan perkotaan dapat terus dioptimalkan, seiring upaya pemerintah daerah mengembangkan sektor pariwisata dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam.
Menurutnya, meningkatnya aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan juga berpotensi menggerakkan perekonomian warga, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di sekitar kawasan tersebut.
Wiyono menambahkan, perbaikan turapan ini diharapkan dapat direalisasikan pada 2027 apabila hasil kajian teknis dan kesiapan anggaran memungkinkan.
"Kita berharap ini bisa dilakukan perbaikan pada 2027. Namun, sekarang kita masih harus memastikan terlebih dahulu apakah konstruksi ini bisa dipertahankan atau memang harus dibongkar dan direkonstruksi ulang," tutupnya. (Adv)



