Insinerator Samarinda Berhasil Reduksi 750 Ton Sampah hingga 92 Persen

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Tampak Insinerator di kawasan Polder Air Hitam Samarinda. (foto: Zulkifli/Pusaranmedia.com)
Tampak Insinerator di kawasan Polder Air Hitam Samarinda. (foto: Zulkifli/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Insinerator Samarinda Berhasil Reduksi 750 Ton Sampah hingga 92 Persen

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Tampak Insinerator di kawasan Polder Air Hitam Samarinda. (foto: Zulkifli/Pusaranmedia.com)
Tampak Insinerator di kawasan Polder Air Hitam Samarinda. (foto: Zulkifli/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Insinerator Samarinda Berhasil Reduksi 750 Ton Sampah hingga 92 Persen

Tampak Insinerator di kawasan Polder Air Hitam Samarinda. (foto: Zulkifli/Pusaranmedia.com)
Tampak Insinerator di kawasan Polder Air Hitam Samarinda. (foto: Zulkifli/Pusaranmedia.com)

Reporter: Zulkifli | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Pembangunan insinerator oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai menunjukkan hasil positif dalam pengelolaan sampah. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat, mesin tersebut mampu mereduksi sekitar 92 persen dari total 750 ton sampah yang diolah selama periode Januari hingga Juli 2026.

Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 8 persen atau kurang lebih 60 ton yang tersisa dalam bentuk abu. Capaian ini menjadi salah satu hasil evaluasi penggunaan insinerator untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kota Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, laporan evaluasi periode Januari hingga Juli 2026 telah disusun dan disampaikan kepada Wali Kota Samarinda.

“Hasil laporan yang kami susun angkanya cukup menggembirakan. Dari 750 ton sampah yang kita bakar, kita berhasil mereduksi sekitar 92 persen. Jadi, sisanya 8 persen dalam bentuk abu, jumlahnya kurang lebih hanya 60 ton,” terang Taufik.

Ia menjelaskan, secara prinsip insinerator tidak bertujuan menghilangkan sampah sepenuhnya. Teknologi tersebut digunakan untuk mengurangi volume sampah sehingga beban sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan.

Meski capaian reduksi dinilai positif, Taufiq menyebut masih ada sejumlah hal yang perlu ditingkatkan, terutama berkaitan dengan volume pembakaran. 

"Salah satu faktor yang memengaruhi kinerja mesin adalah kualitas pemilahan sampah sebelum dibakar," jelasnya.

Dikatakan Taufik, tidak semua jenis sampah dapat dimasukkan ke dalam mesin insinerator. Pemilahan tidak cukup hanya dengan memisahkan sampah basah dan kering karena sejumlah sampah kering juga tidak sesuai untuk dibakar.

“Insinerator tidak bisa membakar semua jenis sampah. Bahkan sampah kering pun ada yang tidak bisa dibakar, seperti bahan berbasis logam, kain, kertas, daun, dan ranting pohon karena berpotensi meninggalkan residu,” katanya.

Karena itu, lanjut Taufik, pemilahan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efektivitas pengoperasian insinerator. Untuk itu, pihaknya akan mengevaluasi pelaksanaan sistem pengelolaan sampah agar pemanfaatan fasilitas tersebut dapat berjalan lebih optimal.

"Keberhasilan insinerator tidak hanya dilihat dari banyaknya sampah yang dibakar, tetapi juga dari kemampuan mengurangi volume sampah yang harus ditangani di TPA," tegasnya.