Taman Numerasi Hadir di 21 SD Bontang, Ubah Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang Tahun 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang Tahun 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Taman Numerasi Hadir di 21 SD Bontang, Ubah Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang Tahun 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang Tahun 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Taman Numerasi Hadir di 21 SD Bontang, Ubah Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan

Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang Tahun 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang Tahun 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin

BONTANG – Sebanyak 21 sekolah dasar (SD) di Kota Bontang telah menerapkan program Taman Numerasi sebagai upaya meningkatkan kemampuan matematika siswa melalui metode pembelajaran yang lebih kreatif dan menyenangkan.

Program ini menjadi salah satu inovasi pendidikan untuk mengubah cara pandang siswa terhadap matematika yang selama ini kerap dianggap sulit dan identik dengan hafalan rumus.

Pengembangan program tersebut mendapat perhatian dalam kegiatan Apresiasi Prestasi dan Inovasi Taman Numerasi Jenjang SD/MI Kota Bontang 2026.

Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat menyampaikan pengenalan matematika seharusnya tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas.

Menurutnya, konsep matematika justru banyak ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari menghitung langkah, mengenali bentuk benda hingga memahami pola di lingkungan sekitar.

Karena itu, Taman Numerasi dirancang menjadi ruang belajar terbuka yang menggabungkan permainan, kreativitas, dan kemampuan bernalar.

“Dari angka ke taman, dari taman ke nalar. Itulah benang merah yang ingin kita bangun melalui Taman Numerasi,” ujarnya, Rabu (4/11/2026).

Pemkot Bontang menilai penguatan numerasi sejak sekolah dasar menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing.

Hal tersebut juga sejalan dengan misi pertama pembangunan daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bontang 2025–2029, yakni mewujudkan transformasi sosial menuju SDM berdaya saing tinggi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Safa Muha menegaskan, pendidikan harus mampu membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki kemampuan menciptakan masa depannya sendiri.

Menurutnya, penguatan literasi dan numerasi tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Keduanya harus menjadi fondasi untuk membangun generasi yang kritis, kreatif, dan memiliki karakter kuat.

Pengembangan Taman Numerasi pun membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 21 SD negeri dan swasta di Kota Bontang.

Pelaksanaannya didukung kepala sekolah, tenaga pendidik, dunia usaha hingga masyarakat. Sejumlah perusahaan yang turut berkontribusi di antaranya PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Badak NGL, PT Kaltim Parna Industri, PT Kaltim Nitrate Indonesia dan PT Kaltim Daya Mandiri.

Melalui program ini, Pemkot Bontang berharap semakin banyak sekolah mengembangkan metode pembelajaran inovatif agar matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang ditakuti, melainkan kemampuan dasar yang dekat dengan kehidupan siswa.