Reporter: Zulkifli | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Pengawasan operasional kendaraan pengangkut sampah di Kota Samarinda mulai memanfaatkan sistem digital. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memasang GPS tracker, sensor bahan bakar minyak (BBM) hingga kartu Radio Frequency Identification (RFID) untuk memantau pergerakan armada dan mengendalikan penggunaan bahan bakar.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar mengatakan terdapat enam mekanisme yang diterapkan untuk meningkatkan pengawasan operasional kendaraan pengangkut sampah. Salah satunya melalui pemasangan GPS tracker yang bekerja sama dengan pihak ketiga.
"Saat ini, sudah 30 unit kendaraan telah dilengkapi perangkat tersebut sehingga pergerakannya dapat dipantau secara langsung atau real time," beber Taufik.
Selain memantau pergerakan kendaraan, DLH juga memasang sensor BBM yang terhubung dengan dashboard pemantauan. Teknologi ini memungkinkan petugas melihat pola konsumsi bahan bakar setiap kendaraan.
Dijelaskan Taufiq, penggunaan BBM secara normal akan terlihat dari grafik yang bergerak turun secara bertahap. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan secara drastis dalam waktu singkat, maka kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya pengurasan atau pengetapan BBM.
“Ketika pemakaian rutin atau normal, grafiknya akan bergerak secara melandai. Tapi ketika ada indikasi pengurasan atau pengetapan, maka grafiknya langsung turun lurus ke bawah,” ujarnya.
Pengawasan juga dilakukan melalui penggunaan kartu RFID untuk pembelian BBM. Sistem tersebut menggantikan pembayaran menggunakan uang tunai, sehingga dana yang dimasukkan ke dalam kartu hanya dapat digunakan untuk pembelian bahan bakar di SPBU.
Tidak hanya penggunaan BBM, DLH juga memperkuat pengawasan terhadap aktivitas kendaraan saat mengangkut dan membuang sampah.
"Di kawasan TPA juag telah dipasang CCTV dan mesin absensi wajah untuk mencatat ritasi setiap kendaraan," ungkapnya.
Disebutkan Taufiq, setiap sopir memiliki kewajiban ritasi yang berbeda, mulai dari dua hingga empat kali dalam sehari. Jumlah tersebut disesuaikan dengan jenis kendaraan dan jarak tempuh menuju TPA.
Setiap kali melakukan ritasi, sopir wajib melakukan pemindaian wajah di TPA. Dengan demikian, DLH dapat memastikan kewajiban pengangkutan sampah dilaksanakan sesuai ketentuan.
“Setiap kali ritasi, sopir wajib melakukan scan wajah di TPA. Ini membantu kami memastikan mereka melaksanakan atau mematuhi ritasi yang diberikan,” jelasnya.
CCTV juga digunakan untuk memantau kendaraan yang masuk ke TPA, termasuk memastikan volume sampah yang dibawa sesuai dengan ketentuan.
"Berbagai mekanisme pengawasan tersebut mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan perhitungan kami hingga Juni 2026, efisiensi penggunaan BBM mencapai 8 persen berdasarkan volume liter," terangnya.
Taufiq menegaskan, angka tersebut dihitung berdasarkan volume BBM, bukan nilai anggaran. Sebab, kenaikan harga BBM jenis Dexlite turut memengaruhi biaya operasional kendaraan.
Harga Dexlite yang sebelumnya berada di kisaran Rp13 ribu meningkat menjadi sekitar Rp24 ribu hingga Rp25 ribu.
Karena itu, lanjut Taufik, meski anggaran operasional meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, penggunaan BBM secara volume liter sudah menunjukkan efisiensi.
Diterangkan Taufik, saat ini, DLH Samarinda memiliki total 73 unit armada. Pemasangan GPS tracker baru menjangkau 30 unit kendaraan pengangkut sampah, sementara pengembangan sistem pengawasan lainnya dilakukan secara bertahap
Untuk itu, lanjut Taufik, pihaknya menargetkan efisiensi penggunaan BBM dapat menembus lebih dari 10 persen hingga akhir 2026.
“Pengendalian efisiensi BBM ini tidak langsung semuanya siap sejak awal tahun, tetapi dilakukan secara bertahap. Mudah-mudahan targetnya bisa di atas 10 persen,” pungkasnya.


