Kemarau Pengaruhi Produksi Ikan Budidaya di Samarinda, Kolam Tanah Paling Terdampak

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Tim dari Dinas Perikanan Samarinda saat berkunjung ditempat budiday ikan. (foto: Doc. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti)
Tim dari Dinas Perikanan Samarinda saat berkunjung ditempat budiday ikan. (foto: Doc. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kemarau Pengaruhi Produksi Ikan Budidaya di Samarinda, Kolam Tanah Paling Terdampak

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Tim dari Dinas Perikanan Samarinda saat berkunjung ditempat budiday ikan. (foto: Doc. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti)
Tim dari Dinas Perikanan Samarinda saat berkunjung ditempat budiday ikan. (foto: Doc. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kemarau Pengaruhi Produksi Ikan Budidaya di Samarinda, Kolam Tanah Paling Terdampak

Tim dari Dinas Perikanan Samarinda saat berkunjung ditempat budiday ikan. (foto: Doc. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti)
Tim dari Dinas Perikanan Samarinda saat berkunjung ditempat budiday ikan. (foto: Doc. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti)

Reporter: Zulkifli | Editor: Buniyamin

SAMARINDA - Musim kemarau yang berlangsung hampi lima bulan di Kota Samarinda mulai berdampak terhadap produksi perikanan budidaya. 

Berkurangnya ketersediaan air membuat sejumlah pembudidaya kesulitan mempertahankan kondisi kolam, terutama yang menggunakan media kolam tanah.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Samarinda, Henny Apriyanti mengatakan produksi ikan budidaya pada 2025 mencapai 873,9 ton. Sementara produksi sepanjang Januari hingga September 2026 ini tercatat sebanyak 633,4 ton.

“Kalau melihat tren setiap bulan, pada Agustus dan September mengalami penurunan. Musim kering berkepanjangan atau kemarau berdampak terhadap kegiatan pembudidayaan ikan,” beber Henny.

Dijelaskan Henny, penurunan produksi mulai terlihat pada Agustus dan September. Kondisi tersebut berkaitan dengan musim kering berkepanjangan yang memengaruhi ketersediaan air untuk kegiatan budidaya.

Terlebih, pembudidaya yang menggunakan kolam tanah menjadi kelompok yang paling terdampak. Kondisi tanah yang mengering menyebabkan debit air berkurang sehingga memengaruhi proses pemeliharaan ikan.

Dampak serupa juga dirasakan pembudidaya yang menggunakan kolam terpal. Meski memiliki media berbeda, berkurangnya pasokan air tetap menjadi kendala dalam menjaga kondisi kolam.

"Apalagi bagi pembudidaya yang selama ini mengandalkan sumber air dari anak sungai maupun Sungai Mahakam. Ketika debit air menurun, mereka harus menyesuaikan pengelolaan kolam agar ikan tetap dapat dipelihara dengan baik," katanya.

Henny menambahkan, selain kolam air tenang, kegiatan budidaya di Samarinda juga menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Kedua media tersebut menjadi bagian dari aktivitas perikanan budidaya yang dikembangkan masyarakat.

Ia menyebut pemkot terus memantau perkembangan produksi dan kondisi pembudidaya di lapangan. Data produksi Oktober masih dalam proses penghitungan sehingga belum dapat diketahui secara keseluruhan capaian tahun ini.

“Data Oktober masih dihitung. Tapi, kondisi kemarau memang berpengaruh terhadap produksi pembudidaya, terutama yang menggunakan kolam tanah,” tutupnya.