DPPKB Samarinda Bakal Bina 30 Rumah Keluarga Risiko Stunting untuk Manfaatkan Pekarangan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPPKB Samarinda Bakal Bina 30 Rumah Keluarga Risiko Stunting untuk Manfaatkan Pekarangan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPPKB Samarinda Bakal Bina 30 Rumah Keluarga Risiko Stunting untuk Manfaatkan Pekarangan

Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA — Optimalisasi lahan pekarangan rumah kini menjadi salah satu strategi utama Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam menekan angka stunting. 

Melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, pemanfaatan pekarangan digencarkan guna menyokong kemandirian pangan sekaligus menambah pendapatan keluarga penerima manfaat.

Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyanti, mengungkapkan, program pemanfaatan pekarangan ini menyasar 30 keluarga risiko stunting yang tersebar di dua wilayah prioritas.

"Kami mengarahkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk 30 keluarga risiko stunting, yaitu 16 keluarga di Kecamatan Sungai Kunjang dan 14 keluarga di Kecamatan Samarinda Seberang," ujar Deasy, Rabu (4/11/2026). 

Ia menjelaskan, 30 rumah keluarga risiko stunting ini di antaranya tersebar di Loa Bakung, Kelurahan Tenun, dan Loa Buah tersebut akan mendapatkan pelatihan keterampilan bercocok tanam serta bantuan bibit sayuran produktif, seperti cabai, tomat, dan terong.

Guna memastikan keberlanjutan program, DPPKB mengarahkan sebanyak 24 petugas pendamping dari Pokja 3 TP PKK, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), dan kader lokal akan memantau perkembangan pekarangan warga secara intensif selama satu tahun penuh.

"Hasilnya paling tidak bisa dikonsumsi sendiri untuk pemenuhan nutrisi harian di rumah, atau dijual untuk menambah pendapatan," terangnya.

Tak sekadar bercocok tanam untuk kebutuhan harian, 30 keluarga risiko stunting tersebut juga dimasukkan ke dalam wadah kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UP2KA).

Langkah intervensi ini diharapkan mampu meretas ketergantungan pangan harian serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga secara mandiri dari lingkungan rumah sendiri.

"Dengan memasukkan mereka ke dalam kelompok UP2KA, kita ingin pemanfaatan pekarangan ini menjadi pemicu kemandirian ekonomi keluarga sasaran secara berkelanjutan di Samarinda," tegas Deasy. (Adv)