Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran dan tarif angkutan udara mendorong inflasi Kota Balikpapan pada Oktober 2026.
Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Balikpapan tercatat sebesar 0,15 persen secara bulanan (month to month/mtm), meningkat dibandingkan September 2026 yang sebesar 0,08 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menjelaskan, kenaikan harga tersebut terutama dipengaruhi berkurangnya pasokan sejumlah komoditas hortikultura dari petani lokal maupun daerah sentra produksi.
Lima komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi Balikpapan yakni sawi hijau, jagung manis, kacang panjang, tomat, dan angkutan udara.
Berkurangnya pasokan sawi hijau dan kacang panjang dipengaruhi kondisi cuaca El Nino yang berdampak terhadap tingkat produksi petani di Balikpapan dan wilayah sekitarnya.
Sementara kenaikan harga jagung manis dan tomat dipicu menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur (Jatim) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) di tengah permintaan masyarakat yang masih kuat.
Ttarif angkutan udara juga mengalami kenaikan seiring diberlakukannya kembali fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar maksimal 40 persen dari tarif batas atas mulai 1 Oktober 2026.
Kebijakan tersebut sejalan dengan rata-rata harga avtur yang mencapai Rp23.315 per liter.
"Secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat sebesar 4,06 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,93 persen," ucap Robi dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Di sisi lain, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami deflasi sebesar 0,18 persen (mtm) pada Oktober 2026. Kondisi ini berbalik dibandingkan September 2026 yang mencatatkan inflasi sebesar 0,56 persen.
Penurunan harga ikan tongkol, ikan layang, daging ayam ras, bawang merah, dan bawang putih menjadi penyumbang utama deflasi di wilayah tersebut.
Meningkatnya hasil tangkapan nelayan seiring kondisi gelombang laut yang membaik turut mendorong penurunan harga ikan. Sementara itu, peningkatan produksi ayam di tingkat peternak membuat pasokan daging ayam di pasar lebih tersedia.
Meski mengalami deflasi bulanan, inflasi tahunan PPU justru tercatat sebesar 4,50 persen, meningkat dari September yang sebesar 4,18 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi gabungan empat kabupaten/kota IHK di Kaltim sebesar 4,04 persen dan inflasi nasional sebesar 3,23 persen.
Menghadapi tekanan harga ke depan, BI Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat upaya menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan.
Langkah tersebut dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), pasar murah, operasi pasar, serta perluasan kerja sama antardaerah dengan sejumlah wilayah sentra produksi.
BI Balikpapan juga mendorong penguatan kerja sama pasokan dengan Kabupaten Bulukumba dan Enrekang, Sulawesi Selatan, yang direncanakan difinalisasi pada akhir November 2026.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap dampak El Niño yang diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027 dan berpotensi mengganggu produksi serta pasokan pangan.
Melalui berbagai langkah tersebut, BI bersama pemerintah daerah berupaya menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.


