Banner ADV

DP3A Kukar Libatkan Psikolog untuk Cegah Pernikahan Dini, Pelajar Didorong Fokus Pendidikan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca4 kali dibaca
DP3A Kukar Libatkan Psikolog untuk Cegah Pernikahan Dini, Pelajar Didorong Fokus Pendidikan

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

DP3A Kukar Libatkan Psikolog untuk Cegah Pernikahan Dini, Pelajar Didorong Fokus Pendidikan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca4 kali dibaca
DP3A Kukar Libatkan Psikolog untuk Cegah Pernikahan Dini, Pelajar Didorong Fokus Pendidikan

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

DP3A Kukar Libatkan Psikolog untuk Cegah Pernikahan Dini, Pelajar Didorong Fokus Pendidikan

4
DP3A Kukar Libatkan Psikolog untuk Cegah Pernikahan Dini, Pelajar Didorong Fokus Pendidikan

Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

TENGGARONG - Kesiapan mental menjadi salah satu perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam mencegah pernikahan usia anak. Melalui asesmen psikologis, anak-anak yang mendapat rujukan terkait rencana pernikahan diberikan pembinaan agar memahami konsekuensi dan tanggung jawab kehidupan berumah tangga.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya DP3A Kukar memperkuat perlindungan anak, sekaligus menekan potensi pernikahan dini. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada sosialisasi, tetapi juga menyentuh aspek psikologis melalui pendampingan oleh tim psikolog.

Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah, mengatakan asesmen psikologis dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendampingan terhadap anak yang dirujuk oleh instansi maupun lembaga terkait.

Dalam proses tersebut, anak diberikan pemahaman mengenai kesiapan mental dan berbagai tanggung jawab yang harus dihadapi ketika memasuki kehidupan rumah tangga. Menurutnya, keputusan menikah membutuhkan pertimbangan matang dan tidak seharusnya dilakukan secara terburu-buru.

“Anak-anak perlu diberikan pembinaan agar memahami bahwa kehidupan rumah tangga memiliki tanggung jawab yang tidak sederhana. Karena itu, asesmen dari tim psikolog menjadi bagian penting dalam proses pendampingan,” jelasnya.

Syafliansyah menegaskan, masa anak dan remaja semestinya lebih banyak dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan diri, menempuh pendidikan, serta mengikuti kegiatan positif. DP3A Kukar berharap generasi muda dapat menyelesaikan pendidikan sebelum memikirkan pernikahan.

Di luar persoalan pernikahan dini, DP3A Kukar juga memperluas upaya pencegahan kekerasan terhadap anak melalui edukasi langsung ke lingkungan sekolah. Pelajar menjadi salah satu kelompok sasaran untuk meningkatkan pemahaman mengenai perlindungan diri dan mengenali potensi kekerasan.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah melibatkan Forum Anak sebagai mitra penyebarluasan informasi. Pelibatan organisasi tersebut diharapkan membuat pesan perlindungan anak lebih mudah diterima dan menjangkau kalangan sebaya.

“Karena itu, kami membangun kerja sama dengan sejumlah pihak. Edukasi dilakukan ke sekolah-sekolah, termasuk melibatkan Forum Anak agar mereka juga memahami langkah-langkah pencegahan,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).

Menurut Syafliansyah, pencegahan kekerasan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun penanganan setelah kasus terjadi. Dukungan lingkungan pendidikan, organisasi anak, dan keluarga diperlukan untuk membangun sistem perlindungan yang lebih kuat.

Ia secara khusus mengingatkan orang tua agar tidak lengah dalam mengawasi aktivitas dan pergaulan anak. Sebab, ancaman kekerasan tidak selalu berasal dari orang asing atau lingkungan luar, tetapi juga berpotensi muncul dari orang-orang yang berada di sekitar anak.

“Orang tua harus benar-benar memperhatikan pergaulan dan aktivitas anak. Pengawasan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi perlu menjadi tanggung jawab bersama karena pelaku kekerasan juga bisa berasal dari lingkungan terdekat anak,” tutupnya.

DP3A Kukar berharap keterlibatan seluruh unsur tersebut dapat memperkuat upaya pencegahan sejak dini. Dengan edukasi, pendampingan psikologis, dan pengawasan keluarga, anak-anak di Kukar diharapkan tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman serta memiliki kesempatan lebih luas untuk mempersiapkan masa depan. (Adv)