Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Ketergantungan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terhadap pasokan telur dari luar daerah menjadi salah satu peluang yang ingin dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar untuk mengembangkan sektor peternakan lokal.
Melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), pemerintah daerah menyiapkan program pengembangan ayam petelur yang direncanakan masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2026.
Program tersebut menyasar lima kecamatan, yakni Kota Bangun, Muara Muntai, Kota Bangun Darat, Loa Janan, dan Loa Kulu.
Kepala Distanak Kukar, M Rifani, mengatakan pengembangan ayam petelur menjadi salah satu program yang tetap didorong pihaknya. Selain peternakan, sektor irigasi juga masuk dalam prioritas yang diusulkan melalui anggaran perubahan.
Meski APBD-P belum ditetapkan, Distanak telah menyiapkan sejumlah program untuk direkomendasikan agar dapat dilaksanakan.
“Untuk Distanak sendiri, yang pasti kita tetap ke ayam petelur, irigasi dan lain sebagainya masih menjadi program yang kita dorong,” ujarnya, Rabu (4/11/2026).
Dalam pelaksanaannya, Distanak masih menghitung kebutuhan jumlah ayam yang akan disalurkan kepada masing-masing wilayah. Perhitungan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan serta kesiapan lokasi penerima program.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemilihan jenis ayam. Distanak berencana menggunakan ayam petelur jenis pullet atau ayam dara yang sudah melewati fase awal pertumbuhan, bukan Day Old Chick (DOC) atau anak ayam berumur sehari.
Langkah ini dipilih agar masyarakat bisa lebih cepat memperoleh hasil produksi. Sebab, jika menggunakan DOC, peternak masih membutuhkan waktu pemeliharaan sekitar tiga hingga empat bulan sebelum ayam memasuki fase produksi.
“Kita masih berhitung, karena nanti kita akan pilihkan ayam bukan bibit atau DOC, tetapi pullet. Jadi ada pergeseran seperti itu, sehingga beberapa bulan ke depan ayam tersebut sudah mulai bertelur,” jelasnya.
Rifani menyebutkan, potensi pasar menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah dalam mengembangkan usaha tersebut. Selama ini, kebutuhan telur masyarakat Kukar masih banyak dipenuhi dari pasokan luar daerah.
Dengan memperkuat produksi lokal, pemerintah berharap kebutuhan pasar dapat dipenuhi secara bertahap dari peternakan masyarakat sendiri.
Selain membuka peluang usaha baru, produksi telur lokal juga diharapkan memberikan keunggulan dari sisi kesegaran produk karena distribusinya tidak harus menempuh perjalanan jauh dari daerah pemasok.
“Pasarnya yang kita lihat, karena telur itu banyak didatangkan dari luar. Namun, kelebihan kita nantinya adalah telur yang diproduksi lebih segar karena berasal dari produksi lokal. Itu salah satu pertimbangan kita,” pungkasnya. (Adv)



