Rekam Program Kaliandra Pertamina: Merangkai Ekosistem Lingkungan dan Ketahanan Pangan untuk Cegah Stunting di Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
14 menit baca7 kali dibaca
Rekam vlog progam Kaliandra Pertamina di kawasan penduduk Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Ahmad Maki/Peserta Jurnalistik Foto)
Rekam vlog progam Kaliandra Pertamina di kawasan penduduk Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Ahmad Maki/Peserta Jurnalistik Foto)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Rekam Program Kaliandra Pertamina: Merangkai Ekosistem Lingkungan dan Ketahanan Pangan untuk Cegah Stunting di Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
14 menit baca7 kali dibaca
Rekam vlog progam Kaliandra Pertamina di kawasan penduduk Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Ahmad Maki/Peserta Jurnalistik Foto)
Rekam vlog progam Kaliandra Pertamina di kawasan penduduk Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Ahmad Maki/Peserta Jurnalistik Foto)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Rekam Program Kaliandra Pertamina: Merangkai Ekosistem Lingkungan dan Ketahanan Pangan untuk Cegah Stunting di Balikpapan

7
Rekam vlog progam Kaliandra Pertamina di kawasan penduduk Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Ahmad Maki/Peserta Jurnalistik Foto)
Rekam vlog progam Kaliandra Pertamina di kawasan penduduk Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (4/11/2026). (Foto: Ahmad Maki/Peserta Jurnalistik Foto)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN – Kawasan penduduk di Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, terdapat program Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera  (Kaliandra) yang diinisiasi oleh PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit (RU) V Balikpapan bersama masyarakat.

Ini terpantau saat mengunjungi lokasi dalam kegiatan peliputan Cabang Olahraga (Cabor) jurnalistik Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwarda) IV Kalimantan Timur (Kaltim) di Balikpapan, Rabu (4/11/2026).

Jujur, ini baru pertama kali berkunjung ke lokasi dari program replika Kaliandra pertama kali di RT 51 Kelurahan Baru Ilir, tepatnya di belakang Apartemen Pertamina Balikpapan kawasan dahor.

Usai pembukaan Porwarda IV Kaltim di Rumah Jabatan (Rumjab) Wali Kota Balikpapan, para peserta langsung diajak panitia menuju lokasi. Dua buah mobil HiAce disiapkan untuk mengantarkan rombongan ini. Setiap momen terekam dari ponsel, baik berupa foto, video, rekaman suara, dan vlog. Sekali-sekali jadi vlogger buat konten di media sosial, karena ini momen pertama.

Tepat di kawasan Plaza Kebun Sayur (Bunsay), mobil berjalan lurus. Di depan Klinik Ida Kartika, mobil berbelok kiri mengikuti jalan utama. Tepatnya di gapura yang ada Musala Al Aqsha, mobil masuk ke dalam dan di situlah lokasinya. Ternyata, ada di kompleks perumahan dinas tentara atau TNI Angkatan Darat (AD).

Dalam pengamatan, suasana di kawasan Asrama Bukit atau yang disingkat Askit ini, tampak berbeda dari permukiman pada umumnya. Di antara bangunan rumah warga, terdapat sejumlah aktivitas yang saling terhubung. Ada Bank Sampah Askit di RT 63, sementara d RT 12 ada komposter, Posyandu Mawar Harum, tanaman hidroponik, kebun pangan, dan siring atau pembuatan tanggul berbahan ban bekas yang ditanami tanaman di atasnya.

Sekilas, fasilitas tersebut terlihat seperti kegiatan pemberdayaan warga biasa. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, setiap bagian memiliki fungsi yang saling berkaitan. Sampah rumah tangga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan. Sebagiannya dipilah untuk dijual melalui bank sampah, sementara sampah organik diolah menjadi kompos. Di sisi lain, tanaman pangan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung pemenuhan gizi keluarga.

Dari sinilah diamati bahwa Kaliandra tidak hanya berbicara tentang penghijauan atau mempercantik lingkungan permukiman. Program ini membawa pendekatan yang lebih luas, yakni membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, peningkatan ekonomi keluarga, serta pelayanan kesehatan.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemerintah dalam menangani persoalan stunting. Sebab, pemenuhan kebutuhan gizi keluarga tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan pangan, pengetahuan masyarakat, kondisi lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Melihat rangkaian tersebut, Kaliandra tampak bukan sebagai program yang berdiri sendiri-sendiri. Setiap kegiatan memiliki hubungan dan saling melengkapi. Pengelolaan sampah berkaitan dengan kebersihan lingkungan, komposter berhubungan dengan kebutuhan pupuk tanaman, hasil kebun mendukung ketersediaan pangan, sedangkan posyandu menjadi bagian penting dalam pemantauan kesehatan ibu dan anak.

“Ayo lihat ke kamera sambil senyum,” ucap Edo, peserta jurnalistik foto saat mengambil gambar anak yang sedang diukur tinggi badannya di posyandu.

Temuan Ekosistem yang Dibangun dari Lingkungan

Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah pengelolaan sampah rumah tangga. Di kawasan tersebut, masyarakat didorong untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum menentukan pemanfaatannya.

Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, gelas plastik, dan sejumlah barang bekas lainnya dapat dikumpulkan melalui bank sampah. Sementara sisa makanan, daun kering, dan sampah organik lainnya diarahkan untuk diolah melalui komposter.

Kader Kaliandra, Tri Wahyuni, menjelaskan keberadaan bank sampah membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Jadi sampah bisa bernilai, walau dapat menjadi ancaman kerusakan lingkungan.

Menurutnya, warga dapat mengumpulkan barang bekas yang masih memiliki nilai jual untuk disetorkan ke bank sampah. Hasilnya memang bergantung pada jenis dan jumlah sampah yang dikumpulkan.

“Bank sampah ini untuk mengurangi sampah-sampah. Jadi, kami kalau membuang sampah tidak terlalu banyak. Di situ juga bisa meningkatkan taraf ekonomi warga,” jelas Tri.

Bagi sebagian orang, botol plastik bekas minuman, kardus, kemasan makanan, maupun barang berbahan plastik mungkin hanya dianggap sebagai limbah rumah tangga. Namun, melalui pengelolaan yang tepat, barang-barang tersebut masih memiliki nilai guna.

Kegiatan ini sekaligus mendorong perubahan kebiasaan masyarakat. Sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi perlu dipilah dan dimanfaatkan sesuai jenisnya.

Sementara itu, sampah organik memiliki jalur pengolahan tersendiri. Sisa makanan dan daun kering dapat dimasukkan ke dalam komposter untuk menghasilkan kompos.

Hasil pengolahan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman yang tumbuh di lahan Kaliandra. Dengan begitu, kegiatan pengelolaan sampah memiliki hubungan langsung dengan aktivitas pertanian.

Hal ini menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem Kaliandra. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menambah beban pembuangan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kebutuhan tanaman.

Di kawasan tersebut juga terdapat instalasi hidroponik yang menjadi salah satu kegiatan pemberdayaan warga. Sejumlah tanaman sayuran dibudidayakan tanpa menggunakan media tanah seperti pertanian konvensional.

Tri yang turut merawat tanaman itu tampak memahami jenis dan masa panen masing-masing komoditas. Beberapa tanaman yang dikembangkan di antaranya tomat, bayam Brasil, selada, pakcoy, dan cabai.

Ia menjelaskan, setiap tanaman memiliki waktu panen berbeda. Pakcoy dapat dipanen setelah berumur sekitar 25 hingga 35 hari. Sementara selada membutuhkan waktu sekitar 30 sampai 35 hari.

Untuk tanaman tomat dan cabai, masa panennya lebih panjang, yakni sekitar tiga bulan.

Menurutnya, keberadaan hidroponik bukan hanya menjadi kegiatan mengisi waktu luang bagi warga. Hasil tanaman juga dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga maupun dijual kepada masyarakat sekitar.

“Kalau untuk warga sekitar, harganya bisa lebih miring. Sedangkan bagi kami sendiri bisa mengurangi pengeluaran untuk membeli sayur. Kalau hasilnya lebih, bisa dijual sehingga menambah pendapatan,” ungkap Tri.

Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa manfaat hidroponik tidak hanya berhenti pada ketersediaan tanaman. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar bercocok tanam, mengelola hasil produksi, hingga memperoleh tambahan pendapatan. Hitung-hitung sambil belajar dan menambah pengalaman.

Selain hidroponik, terdapat pula kebun pangan yang memanfaatkan lahan terbatas di sekitar lokasi yang tak jauh. Sejumlah tanaman seperti terong, pakcoy, cabai rawit, ginseng, ubi, pisang, dan pepaya dikembangkan untuk menunjang kebutuhan rumah tangga. Terong terlihat tumbuh, sementara cabai rawit banyak berbuah di pohonnya.

Kehadiran kebun tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan lahan bukan berarti masyarakat tidak bisa melakukan kegiatan pertanian. Dengan pengelolaan yang sesuai, ruang yang tersedia tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Baru Ilir, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Balikpapan, Indah Sugiastuti, mengatakan pendampingan kepada masyarakat terus dilakukan untuk mengembangkan potensi pertanian di lingkungan tersebut.

Ia bahkan mendorong warga membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) agar kegiatan budidaya dapat dikelola lebih terorganisasi.

Menurutnya, pengembangan tanaman produktif sebaiknya tidak hanya terpusat di lahan bersama milik lingkungan. Ke depan, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan tanaman pangan di pekarangan masing-masing.

“Minimal ada tanaman sayuran yang ketika kita butuh untuk makan, tidak perlu membeli. Jadi, ke depannya setiap rumah diharapkan bisa memiliki tanaman produktif untuk menunjang ketahanan pangan keluarga,” ucap Indah yang berada di sebelah Tri.

Indah menilai kegiatan yang saat ini dilakukan di kawasan tersebut dapat menjadi contoh bagi warga lainnya. Jika masyarakat melihat manfaat yang diperoleh, diharapkan muncul keinginan untuk mengikuti kegiatan serupa.

“Harapannya sih ini memang menjadi percontohan buat warga agar dapat diterapkan di pekarangan rumahnya,” imbuhnya.

Temuan Posyandu Menjadi Bagian Penting Pencegahan Stunting

Di antara kegiatan lingkungan dan pertanian tersebut, keberadaan Posyandu Mawar Harum memiliki peran yang tidak kalah penting.

Posyandu menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil dan balita. Kegiatan yang dilakukan meliputi penimbangan balita, pemantauan pertumbuhan anak, serta pemeriksaan kesehatan ibu hamil bersama tenaga kesehatan dari puskesmas.

Di sinilah hubungan antara program lingkungan dan upaya pencegahan stunting menjadi semakin terlihat. Kampung Kaliandra memberikan dampak buat kebutuhan sehari-hari warga.

Sebab persoalan stunting tidak cukup ditangani hanya dengan mengukur tinggi badan anak atau melakukan pemeriksaan kesehatan ketika masalah sudah muncul. Pencegahannya perlu dilakukan sejak dini melalui pemenuhan gizi, pemantauan tumbuh kembang, pola asuh, serta kondisi lingkungan keluarga.

Ketersediaan sayuran dan bahan pangan bergizi yang dikembangkan melalui kebun maupun hidroponik diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga.

Hasil pertanian tersebut juga berpotensi mendukung kebutuhan pangan dalam kegiatan posyandu, terutama untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT PPN RU V Balikpapan, Dodi Yapsenang, mengatakan pengembangan Kaliandra memang diarahkan untuk memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Walaupun itu berada di kompleks perumahan TNI, Pertamina tetap harus merata dalam pembinaan warga dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan ini.

Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengelola dan mengembangkan kegiatan secara mandiri.

Menurutnya, perusahaan melakukan evaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan serta manfaat program yang dijalankan.

“Harapan adanya Kaliandra agar warga bisa lebih mandiri, baik secara ekonomi maupun kesehatan. Masyarakat juga bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dari pertanian,” ujar Dodi.

Ia mengatakan, salah satu tujuan yang ingin dicapai melalui pengembangan kebun gizi, hidroponik, dan tanaman sayuran adalah membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.

Ia berharap upaya tersebut dapat berkontribusi terhadap penanganan stunting di lingkungan sekitar.

"Harapannya stunting bisa terselesaikan dengan adanya pemenuhan kebutuhan gizi dari tanaman yang kita kembangkan, seperti hidroponik dan sayuran. Hasilnya bisa mendukung kebutuhan Posyandu, terutama untuk anak-anak," jelasnya.

Ia menegaskan, penanganan stunting juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Dengan demikian, Kaliandra tidak hanya diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan hijau. Program tersebut juga mencoba menyentuh persoalan kesehatan keluarga melalui penguatan ketahanan pangan.

Namun, kata dia, upaya pencegahan stunting tetap membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Hasil kebun dan ketersediaan sayuran merupakan salah satu faktor pendukung, sementara pemantauan kesehatan, pola asuh, kecukupan asupan gizi, sanitasi, serta edukasi keluarga tetap harus berjalan bersama.

Temuan Program Replikasi, Belajar dari Pengembangan Sebelumnya

Pengembangan Kaliandra di kawasan Baru Ilir juga merupakan bagian dari upaya memperluas model pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah dijalankan perusahaan di sejumlah wilayah.

Dodi menjelaskan, program yang diterapkan merupakan bentuk replikasi dari kegiatan pemberdayaan yang telah dikembangkan sebelumnya. Model tersebut kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat di lokasi pengembangan berikutnya.

Menurutnya, perusahaan tidak serta-merta membawa program tanpa mempertimbangkan kebutuhan warga. Sebelum menentukan bentuk kegiatan, dilakukan diskusi bersama pemerintah daerah, kelurahan, dan masyarakat.

Masukan dari warga menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan kegiatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Ini juga yang menjadi pilihan Kaliandra di lokasi ini.

“Program itu harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jadi, bukan kami langsung membawa program, tetapi ada diskusi terlebih dahulu. Ada FGD dengan masyarakat, baru kemudian muncul program yang bisa diberikan sesuai masukan mereka sendiri,” terang Dodi.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena setiap wilayah memiliki persoalan dan potensi yang berbeda, sehingga TJSL harus tepat sasaran.

Ada lingkungan yang membutuhkan penguatan pengelolaan sampah, ada pula yang memerlukan pengembangan ketahanan pangan maupun pelayanan kesehatan masyarakat.

Karena itu, program replikasi ini tidak hanya menyalin fasilitas yang telah ada di lokasi sebelumnya. Pengembangannya perlu menyesuaikan kebutuhan warga dan kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatan tersebut.

Dodi menyebutkan, perusahaan ingin agar manfaat program dapat terus berjalan meskipun suatu saat pendampingan perusahaan tidak lagi dilakukan secara intensif.

Ia menilai keberhasilan pemberdayaan bukan semata-mata dilihat dari banyaknya fasilitas yang dibangun, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk menjalankan kegiatan secara mandiri.

“Harapan kami, warga bisa merasakan manfaatnya, kemudian mampu berdiri sendiri dan mengembangkan apa yang sudah dijalankan bersama. Jadi, ke depannya tidak bergantung lagi kepada perusahaan,” katanya.

Dalam pengembangannya, perusahaan juga memperhatikan aspek keberlanjutan atau sustainability. Evaluasi dilakukan dengan melihat perkembangan kemampuan kelompok masyarakat dan kebutuhan yang masih harus didampingi.

Dodi menjelaskan, pada program sebelumnya pendampingan telah berlangsung sekitar lima tahun. Namun, waktu untuk setiap lokasi tidak selalu sama karena bergantung pada kesiapan dan kemampuan masyarakat.

Jika kelompok sudah mampu mengelola kegiatan secara mandiri, intensitas pendampingan dapat dikurangi. Sebaliknya, jika masih membutuhkan dukungan, pendampingan dapat dilanjutkan sesuai hasil evaluasi.

Sementara di kawasan pengembangan baru, perusahaan masih melakukan proses penguatan dan pendampingan agar kegiatan dapat berjalan secara berkelanjutan. Tak hanya dampak lingkungan, dampak lainnya seperti penurunan angka stunting dinilai perlu ada.

“Iya itu merupakan tanggung jawab kita juga ‘kan. Program angka stunting itu salah satu tanggung jawab sosial kita juga, ya. Kita harus bertanggung jawab kepada itu di sekitar wilayah operasional kita,” tegasnya.

Temuan Program hingga Pengembangan Kawasan Baru Ilir

Dalam catatan pengembangan program di Kelurahan Baru Ilir, terdapat pula kelompok pemberdayaan yang dikenal melalui kegiatan Warga Siaga Sehat Sejahtera (Wasiat). Termasuk, Kaliandra yang pertama kali di RT 51, belakang Apartemen Pertamina.

Kelompok tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mencakup aspek ketahanan pangan dan kesehatan. Selain Kaliandra dan Wasiat, terdapat pula Kelurahan Tanggap Bencana (Katana) dan Program Kampung Iklim (Proklim).

Keempatnya memperlihatkan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat tidak hanya berfokus pada satu persoalan. Kesiapsiagaan menghadapi bencana, kesehatan warga, serta pengelolaan lingkungan menjadi bagian dari kegiatan yang saling mendukung.

Lurah Baru Ilir, Junaidi, menyampaikan bahwa dukungan perusahaan telah membantu pengembangan sejumlah kegiatan di wilayahnya.

Ia menyebutkan, program yang dijalankan mencakup pengelolaan sampah, ketahanan pangan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal.

“Saya berharap kerja sama dengan perusahaan dapat terus berlanjut dan diperluas ke wilayah lain di Kelurahan Baru Ilir,” ucap Junaidi yang turut hadir di lokasi.

Ia juga mengapresiasi dukungan Pertamina yang telah membantu masyarakat mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan.

Sebagai pemerintah kelurahan, keberadaan program seperti Kaliandra dapat menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan di lingkungan masyarakat bisa ditangani melalui kerja sama berbagai pihak.

Sebab, persoalan lingkungan, ketahanan pangan, dan kesehatan keluarga tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu pihak.

“Pemerintah memiliki peran dalam memberikan pendampingan dan pelayanan. Perusahaan dapat mendukung melalui program tanggung jawab sosial, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama yang menjalankan kegiatan sehari-hari,” tuturnya. 

Temuan Program Keberlanjutan dari Lingkungan Sendiri

Dari seluruh rangkaian kegiatan yang terlihat, ada satu hal yang menjadi benang merah program Kaliandra, yakni membangun kebiasaan masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang ada di sekitar tempat tinggal.

Bank sampah mengajarkan warga memilah limbah. Komposter memberikan alternatif pengolahan sampah organik. Hidroponik dan kebun pangan mendorong ketersediaan bahan makanan. Sementara Posyandu menjadi ruang untuk memastikan kesehatan ibu dan anak tetap mendapat perhatian.

Bahkan, pemanfaatan ban bekas sebagai bagian dari konstruksi siring di kawasan perbukitan memperlihatkan upaya warga memanfaatkan barang yang tidak terpakai untuk membantu mengurangi risiko longsor.

Kader Tri Wahyuni menjelaskan, siring tersebut dibuat sebagai langkah antisipasi terhadap potensi pergerakan tanah ketika hujan. Ban bekas dimanfaatkan sebagai bagian dari konstruksi penahan, sekaligus ruang untuk menanam tanaman.

Meski belum dapat menjamin kawasan sepenuhnya bebas dari risiko bencana, langkah tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian warga terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Di sisi lain, masyarakat yang terlibat dalam program juga mendapatkan kegiatan produktif. Mereka tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi ikut merawat tanaman, mengelola sampah, dan mengembangkan hasil kebun.

Tri berharap dukungan terhadap program tersebut dapat terus berlanjut, terutama untuk kebutuhan bibit, instalasi, dan pupuk agar kegiatan pertanian dapat dikembangkan lebih baik.

Menurutnya, keberadaan program ini memberikan aktivitas bermanfaat bagi warga. Selain dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, hasilnya juga berpotensi menambah pendapatan keluarga.

Harapan serupa disampaikan Dodi. Ia ingin masyarakat mampu melanjutkan kegiatan yang telah dibangun bersama sehingga manfaatnya tidak berhenti ketika pendampingan perusahaan berkurang.

“Keberhasilan Kaliandra tidak hanya diukur dari banyaknya tanaman yang tumbuh, fasilitas yang tersedia, atau bangunan yang berdiri di kawasan permukiman. Tetapi keberhasilan itu dapat diukur dengan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat,” imbuhnya.

Dari lingkungan yang dikelola bersama, ketahanan pangan keluarga diperkuat. Dari ketahanan pangan, pemenuhan gizi mendapat dukungan. Dan dari kebiasaan menjaga kesehatan sejak dini, upaya pencegahan stunting dapat terus diperkuat.

“Coba lihat fotomu dil, bagus nah,” ucap Ahmad Maki usai menjepret saat sedang vlog.

Data dan Fakta Angka Stunting Balikpapan

Terpisah, data Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan menunjukkan persoalan stunting masih menjadi perhatian. Berdasarkan bahan evaluasi 2025, prevalensi stunting di Kota Balikpapan tercatat sebesar 24,5 persen, meningkat dibandingkan angka sebelumnya 21,6 persen.

Sementara itu, data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang disampaikan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) mencatat prevalensi stunting Balikpapan sebesar 19,6 persen pada 2022 dan meningkat menjadi 24,8 persen pada 2024.

Selain angka prevalensi, DP3AKB juga mencatat peningkatan jumlah keluarga berisiko stunting pada 2025 mencapai 19.1726 keluarga. Angka tersebut meningkat menjadi 21.644 keluarga pada 2026 berdasarkan pendataan keluarga di tahun sebelumnya. Dengan demikian, terdapat penambahan 1.198 keluarga yang masuk dalam katagori sasaran pendampingan.

Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Keluarga DP3AKB Balikpapan, Luluk Kumala Kafbiyah, menjelaskan keluarga risiko stunting merupakan keluarga yang memiliki sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting. Di antaranya kondisi ibu hamil dengan status gizi kurang atau anemia, kesiapan kesehatan reproduksi calon pengantin, pola makan balita yang belum seimbang, serta keterbatasan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan.

“Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan hingga anak memasuki usia dua tahun. Pendampingan tidak hanya menyasar anak, tetapi juga calon pengantin, ibu hamil, ibu pascapersalinan, serta keluarga yang memiliki balita,” ucap dr Luluk saat dikonfirmasi.

DP3AKB Balikpapan turut menjalankan sejumlah program untuk memperkuat pendampingan tersebut, yakni pembinaan melalui 138 kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) yang tersebar di enam kecamatan, pelayanan keluarga berencana melalui kerja sama dengan 101 fasilitas kesehatan, serta pelibatan 2.544 tenaga medis, tenaga kesehatan, dan tenaga lini lapangan.

Selain itu, terdapat program Gerakan Orang Tua Asuh Stunting (Genting) yang melibatkan 67 orang tua asuh dari berbagai unsur, perorangan, komunitas, hingga lembaga lainnya.

Berbagai program tersebut menunjukkan pencegahan stunting membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga perlu didukung pemenuhan pangan bergizi, pengetahuan keluarga mengenai pola asuh, lingkungan yang sehat, serta akses sanitasi dan air bersih.

Dalam rekaman dan temuan ini, program Kaliandra menjadi salah satu bentuk dukungan di tingkat masyarakat melalui pengembangan kebun pangan, pengelolaan sampah, komposter, dan kegiatan posyandu. Semoga masalah stunting dapat teratasi di Balikpapan.