Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Penyusutan debit air sungai menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) melakukan sejumlah penanganan infrastruktur pengairan di enam lokasi.
Penanganan tersebut meliputi pembangunan pintu air, normalisasi sungai hingga penambahan kapasitas tampungan air. Langkah ini dilakukan agar aliran air tetap bisa dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas pertanian, terutama ketika permukaan sungai mengalami penyusutan.
Kepala Bidang (Kabid) SDA Dinas PU Kukar, Awang Agus, mengatakan kondisi debit sungai yang mulai surut membuat distribusi air menuju kawasan pertanian membutuhkan penanganan. Salah satu kendalanya adalah perbedaan ketinggian permukaan air sungai dengan saluran yang mengarah ke lahan pertanian.
Karena itu, normalisasi sungai menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan aliran air yang tersedia. Selain itu, kapasitas penampungan air juga ditingkatkan dengan penambahan dimensi sekitar satu meter.
“Persoalan utamanya adalah bagaimana air dari sungai bisa tetap masuk ke kawasan pertanian. Sekarang kondisinya sedang surut, sementara kebutuhan petani terhadap air cukup tinggi. Karena itu, kami berupaya memaksimalkan aliran yang ada sekaligus meningkatkan kapasitas penampungan,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Awang menjelaskan, sejumlah pekerjaan yang dilaksanakan merupakan tindak lanjut dari usulan yang disampaikan pada 2025. Namun, tidak semua usulan dapat direalisasikan karena harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
Beberapa pekerjaan yang menjadi prioritas di antaranya pembangunan pintu air di Jonggon dan Bukit Raya. Sementara normalisasi sungai dilakukan di sejumlah kawasan, termasuk Bangun Rejo dan Sungai Alam di kawasan Manunggal Jaya.
Pembangunan pintu air diharapkan membantu pengaturan distribusi air, sedangkan normalisasi sungai bertujuan memperlancar aliran menuju kawasan pertanian.
Dari sisi pembiayaan, PU Kukar menyiapkan anggaran sekitar Rp8 miliar untuk mendukung berbagai pekerjaan infrastruktur sumber daya air tersebut.
Awang berharap, penanganan yang dilakukan dapat membantu petani memperoleh pasokan air yang lebih memadai, sehingga aktivitas pertanian tetap berjalan meskipun debit sungai mengalami penurunan.
“Harapannya, melalui pembangunan pintu air, normalisasi sungai, dan penambahan kapasitas tampungan, kebutuhan air untuk pertanian bisa lebih terbantu. Kami juga akan menyesuaikan penanganan dengan usulan serta kemampuan anggaran yang tersedia,” pungkasnya. (Adv)



