Bontang Andalkan Digitalisasi Pajak dan Penanganan Stunting di Ajang IGA 2026

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Presentasi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam Kegiatan Kepala Daerah Nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Presentasi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam Kegiatan Kepala Daerah Nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Bontang Andalkan Digitalisasi Pajak dan Penanganan Stunting di Ajang IGA 2026

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Presentasi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam Kegiatan Kepala Daerah Nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Presentasi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam Kegiatan Kepala Daerah Nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Bontang Andalkan Digitalisasi Pajak dan Penanganan Stunting di Ajang IGA 2026

Presentasi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam Kegiatan Kepala Daerah Nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Presentasi Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam Kegiatan Kepala Daerah Nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengandalkan dua inovasi unggulan untuk memperkuat daya saing daerah di tingkat nasional. Kedua inovasi tersebut menyasar sektor peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui digitalisasi perpajakan dan percepatan penanganan stunting.

Dua program yang diunggulkan yakni Bapenda Etam dan Pangan Lanting. Keduanya dipresentasikan langsung Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam tahapan presentasi kepala daerah nominator Innovative Government Award (IGA) 2026 secara daring.

Neni menekankan keberhasilan inovasi pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya program yang diluncurkan. Hal terpenting adalah dampak dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Menurutnya, inovasi harus mampu menjawab persoalan daerah sekaligus memberikan perubahan nyata terhadap kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan warga.

"Keberhasilan inovasi harus diukur dari dampak nyata bagi kesejahteraan warga. Pemerintah Kota Bontang berkomitmen penuh untuk memastikan keberlanjutan program-program ini melalui dukungan regulasi, penganggaran, penguatan SDM, adopsi teknologi, serta kolaborasi lintas sektor," ujarnya, Jumat (6/11/2026).

Dari sektor pendapatan, Bapenda Etam menjadi salah satu upaya Pemkot Bontang mengoptimalkan penerimaan daerah melalui sistem perpajakan digital yang terintegrasi dengan QRIS.

Inovasi yang dikembangkan secara mandiri tersebut diklaim mampu meningkatkan PAD dari Rp495 miliar menjadi Rp729 miliar. Sementara transaksi digital daerah meningkat 225 persen, dari Rp75 miliar menjadi Rp244 miliar.

Keberhasilan penerapannya juga menarik perhatian sejumlah daerah di Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Paser disebut tertarik mereplikasi sistem tersebut.

Sementara itu, Pangan Lanting difokuskan pada penanganan stunting melalui intervensi terpadu. Program ini melibatkan 120 Posyandu dengan sasaran 8.944 anak.

Pelaksanaannya mencakup deteksi dini, pendampingan keluarga, intervensi gizi, hingga edukasi kepada masyarakat. Berdasarkan data yang dipaparkan, prevalensi stunting di Bontang turun dari sekitar 29 persen menjadi 20 persen.

Cakupan penimbangan balita juga meningkat dari 48 persen menjadi 93 persen. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan dasar bagi anak.

Selain memaparkan dua inovasi tersebut, Neni turut menyampaikan perkembangan pembangunan Kota Bontang. Pertumbuhan ekonomi nonmigas tercatat 6,33 persen, angka kemiskinan turun menjadi 3,21 persen, sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 83,04.

Adapun Indeks Inovasi Daerah Bontang tercatat 60,94 pada 2025, dengan 48 inovasi aktif sepanjang 2026.

Presentasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian penilaian IGA 2026 yang diselenggarakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri pada 3-5 November 2026. Ajang ini diikuti 541 pemerintah daerah dengan total 48.246 inovasi.

Melalui dua inovasi tersebut, Pemkot Bontang berharap pengembangan pelayanan berbasis digital dan program penanganan masalah sosial dapat terus berkelanjutan serta menjadi contoh bagi daerah lain.