Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Hujan mulai lebih sering mengguyur sejumlah wilayah di Kota Samarinda dalam beberapa waktu terakhir, meskipun sebelumnya awal musim hujan diprakirakan baru terjadi pada pertengahan November 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) serta mulai masuknya angin monsun Asia ke wilayah Indonesia.
Forecaster BMKG Kota Samarinda, Fiona Alya Hanifah menjelaskan, MJO merupakan salah satu variabilitas iklim yang dapat memengaruhi pertumbuhan awan hujan.
Ketika fenomena tersebut aktif, potensi pembentukan awan yang menghasilkan hujan di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, cenderung meningkat.
Selain itu, kondisi cuaca saat ini juga dipengaruhi oleh masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Hal tersebut ditandai dengan mulai masuknya angin dari Asia ke wilayah Indonesia, sementara pengaruh angin dari Australia masih berlangsung.
“Ketika MJO aktif, cenderung terjadi peningkatan pertumbuhan awan yang berpotensi menimbulkan hujan di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur,” jelas Fiona.
Ia menyebutkan, berdasarkan prediksi untuk dasarian pertama November, intensitas curah hujan di wilayah Samarinda diperkirakan berada dalam kategori menengah, dengan kisaran sekitar 50-75 milimeter dalam satu dasarian atau periode sepuluh hari.
Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, Fiona menegaskan bahwa awal musim hujan di Samarinda masih diprakirakan berlangsung sesuai jadwal sebelumnya, yakni sekitar pertengahan November 2026. Sementara masa peralihan musim diperkirakan mulai terjadi pada awal November.
Terkait kondisi asap yang masih terlihat di sejumlah wilayah, Fiona menjelaskan bahwa penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada turunnya hujan, tetapi juga harus disertai penanganan sumber kebakaran, terutama titik panas dan api yang masih aktif.
Menurutnya, hujan dapat membantu memadamkan sumber api sekaligus mengurangi konsentrasi partikulat di atmosfer melalui proses pencucian atmosfer. Proses tersebut membantu menurunkan partikel pencemar yang berada di udara sehingga kualitas udara berangsur membaik.
“Karena sudah mulai memasuki peralihan musim dan terdapat hujan di beberapa wilayah Kalimantan Timur, kualitas udara diharapkan berangsur-angsur membaik,” ungkapnya.
Di sisi lain, fenomena El Nino yang diprediksi masih berlangsung hingga awal 2027 juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan cuaca ke depan.
Fiona menjelaskan, puncak fenomena El Nino tidak selalu bertepatan dengan puncak musim kemarau. Meskipun pengaruh El Nino diprakirakan masih berlangsung, sejumlah wilayah Indonesia dengan pola musim hujan monsunal tetap mulai memasuki musim hujan pada November.
Adapun puncak musim hujan di wilayah Kalimantan Timur diperkirakan masih mendekati pola normal, yakni sekitar Januari hingga Februari 2027.
Ia menambahkan, pengaruh angin monsun Asia diperkirakan lebih dominan dibandingkan pengaruh El Nino dalam mendukung masuknya musim hujan.
Meski demikian, El Nino masih berpotensi memengaruhi intensitas curah hujan sehingga perlu terus dipantau melalui pembaruan prakiraan cuaca.
BMKG pun mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan informasi cuaca terkini, mengingat kondisi atmosfer selama masa peralihan musim cenderung dinamis.
Masyarakat juga diharapkan tidak hanya mengandalkan turunnya hujan, tetapi turut menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas pembakaran yang dapat memicu kebakaran serta memperburuk kualitas udara di Samarinda.


