Begini Penjelasan Dinas PUPR Soal Pembangunan Jalan Tembusan Pasar Pagi yang Dikeluhkan Warga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
RDP membahas pembangunan jalan tembusan Pasar Pagi, Jumat (6/11/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
RDP membahas pembangunan jalan tembusan Pasar Pagi, Jumat (6/11/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Begini Penjelasan Dinas PUPR Soal Pembangunan Jalan Tembusan Pasar Pagi yang Dikeluhkan Warga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
RDP membahas pembangunan jalan tembusan Pasar Pagi, Jumat (6/11/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
RDP membahas pembangunan jalan tembusan Pasar Pagi, Jumat (6/11/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Begini Penjelasan Dinas PUPR Soal Pembangunan Jalan Tembusan Pasar Pagi yang Dikeluhkan Warga

RDP membahas pembangunan jalan tembusan Pasar Pagi, Jumat (6/11/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
RDP membahas pembangunan jalan tembusan Pasar Pagi, Jumat (6/11/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA — Proyek pembangunan jalan tembusan menuju kawasan Pasar Pagi dari Jalan Mas Tumenggung menuai protes dari warga setempat. 

Keluhan tersebut terungkap secara terbuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Gedung DPRD Kota Samarinda, Jumat (6/11/2026).

Permasalahan bermula ketika warga merasa pembangunan infrastruktur yang dikerjakan oleh Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) justru menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. 

Sejumlah elemen penataan seperti pagar pembatas dan pot bunga dinilai menutup akses langsung ke toko-toko warga.

Salah seorang perwakilan warga, Ronald menyampaikan keberatan atas desain awal proyek yang dianggap merugikan para pemilik usaha di sekitar lokasi. 

Menurutnya, hambatan fisik di depan ruko dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan warga jika terjadi keadaan darurat seperti kebakaran.

"Jangan sampai dulu kami susah karena pedagang kaki lima, kemudian kami sekarang disusahkan karena adanya ini, pembangunan yang malah menutup akses-akses warga situ," ujar Ronald,

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR Kota Samarinda, Hendra Irawan memberikan penjelasan komprehensif mengenai latar belakang, tujuan, serta dinamika perencanaan proyek infrastruktur tersebut. 

Ia menegaskan, tujuan utama penataan ini adalah untuk menghadirkan akses yang lebih layak, teratur, dan estetik, sekaligus mengangkat kawasan tersebut sebagai salah satu ikon baru Kota Samarinda yang dilengkapi dengan ornamen khas seperti ikon pesut.

Hendra menjelaskan bahwa pihak Dinas PUPR sebenarnya telah melakukan serangkaian rapat koordinasi secara intensif dengan berbagai pihak, mulai dari para asisten sekda, unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Wali Kota Samarinda, hingga tingkat kelurahan dan kecamatan. 

Berdasarkan masukan yang masuk, desain pembangunan telah direvisi sebanyak tiga kali guna mengakomodasi keinginan warga agar akses menuju ruko tetap terbuka dan lebih luas dari perencanaan awal.

Lebih lanjut, Hendra memaparkan bahwa pada mulanya desain akses dibuat relatif tertutup dan sempit dengan lebar sekitar 1,2 hingga 3 meter.

Namun, setelah mendengarkan aspirasi warga serta mendapatkan lampu hijau dari Wali Kota Samarinda, pihak perencana menurunkan ketinggian serta memperlebar jarak akses hingga mencapai 1,7 meter, bahkan memberikan ruang sirkulasi yang lebih longgar bagi setiap pemilik toko. 

Selain itu, proyek ini juga mencakup pembangunan saluran drainase baru yang langsung terhubung ke sungai guna mencegah potensi genangan air di sekitar pertokoan.

Pihak Dinas PUPR berharap koordinasi lanjutan bersama instansi pendukung, seperti Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), dapat semakin memperjelas batas-batas lahan dan kepemilikan ruang publik. 

"Kontraktor dan konsultan juga mendapat masukan kembali dari warga agar meminta akses itu diperlebar. Kita laksanakan juga semuanya hingga akhirnya final perancangan itu kita rubah tiga kali, yang ini yang terakhir," jelas Hendra dalam RDP. 

Pemerintah berkomitmen untuk mencari jalan tengah terbaik agar proyek estetika perkotaan dan penataan kawasan Pasar Pagi ini dapat berjalan sukses tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi serta kenyamanan warga setempat.

"Kita ada memasukkan ikon pesut seperti di Balai Kota. Kemudian ada seperti bola-bola itu untuk semata-mata adalah untuk menandai bahwa tidak boleh dilewati oleh R2 maupun R4," pungkasnya. (Adv)