Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Pergantian musim dari kemarau menuju penghujan menjadi momentum yang perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kondisi cuaca yang tidak menentu selama masa pancaroba berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk pembawa penyakit, salah satunya penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar memastikan hingga saat ini belum terdapat peningkatan kasus DBD yang signifikan. Pemantauan tetap dilakukan secara rutin untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus seiring perubahan cuaca.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Muffidah, mengatakan DBD menjadi salah satu penyakit yang masuk dalam pemantauan mingguan. Langkah tersebut dilakukan agar setiap perkembangan kasus dapat terdeteksi lebih awal dan segera ditindaklanjuti.
“Saat ini belum ada peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang signifikan. Namun, kami akan terus melakukan pemantauan karena DBD merupakan salah satu penyakit yang rutin dipantau setiap minggu. Dengan begitu, apabila terjadi peningkatan kasus, dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti,” jelasnya, Sabtu (7/11/2026)
Menurut Ismi, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan melalui pemantauan kasus, tetapi juga dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Dinkes Kukar terus menggencarkan promosi kesehatan agar masyarakat terbiasa menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari.
Perhatian khusus diberikan terhadap lingkungan rumah yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Saat musim hujan mulai tiba, genangan air maupun wadah terbuka yang menampung air hujan dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak.
Karena itu, masyarakat diminta lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membiarkan barang-barang bekas atau tempat penampungan air terbuka yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Kami terus mengingatkan masyarakat untuk membiasakan perilaku 3M, yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menampung air, serta melakukan langkah-langkah pencegahan lainnya. Setidaknya, kebiasaan tersebut dapat mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk sehingga populasinya tidak semakin meningkat,” ujarnya.
Selain mengoptimalkan pencegahan di lingkungan masyarakat, Dinkes Kukar juga memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Ketersediaan obat-obatan di puskesmas dipastikan tetap terjaga untuk mendukung penanganan pasien.
Apabila kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut, fasilitas kesehatan tingkat pertama juga telah memiliki mekanisme rujukan ke rumah sakit.
Ismi berharap masyarakat tidak menunggu hingga muncul kasus di lingkungan sekitar untuk mulai melakukan pencegahan.
Kewaspadaan dan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan perlu ditingkatkan, terutama selama masa peralihan musim guna menekan risiko penyebaran DBD di Kukar. (Adv)



