Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Lahan kosong di lingkungan sekolah yang selama ini kurang dimanfaatkan mulai diarahkan menjadi ruang pembelajaran produktif.
Melalui program Sekolah Menanam Asri, Inspiratif, dan Lingkungan Lestari (SEMAILIS), Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau mendorong sekolah menjadikan kegiatan bercocok tanam sebagai bagian dari proses pendidikan siswa.
Program tersebut diluncurkan di SMPN 5 Tanjung Redeb. Peluncuran ini menjadi langkah awal Disdik Berau dalam menghadirkan pola pembelajaran yang tidak hanya terpaku pada ruang kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik.
Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, mengungkapkan gagasan SEMAILIS muncul setelah pihaknya menemukan banyak area sekolah yang belum dikelola secara optimal. Padahal, lahan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang belajar sekaligus lingkungan hijau yang memberikan manfaat bagi warga sekolah.
Menurutnya, sekolah perlu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui aktivitas menanam, siswa dapat memahami proses pertumbuhan tanaman, belajar merawat lingkungan, hingga melihat secara langsung hasil dari apa yang mereka kerjakan.
“Anak-anak jangan hanya mendapatkan pengetahuan dari teori. Mereka juga perlu belajar melalui praktik agar apa yang dipelajari bisa dirasakan manfaatnya,” kata Mardiatul.
Ia menjelaskan, konsep SEMAILIS selaras dengan pendekatan meaningful learning atau pembelajaran bermakna. Dalam konsep tersebut, siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi didorong untuk memahami, mengalami, dan menerapkan pengetahuan melalui aktivitas nyata.
Dengan begitu, kegiatan menanam diharapkan bukan sekadar rutinitas penghijauan, melainkan menjadi media untuk membangun kreativitas, tanggung jawab, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Pemilihan SMPN 5 Tanjung Redeb sebagai lokasi perdana juga bukan tanpa alasan. Sekolah tersebut telah mengantongi predikat Adiwiyata Nasional sehingga dinilai memiliki lingkungan dan budaya sekolah yang mendukung pengembangan program berbasis kepedulian lingkungan.
Disdik Berau pun tidak ingin SEMAILIS hanya menjadi proyek percontohan di satu sekolah. Program ini dirancang untuk diperluas secara bertahap ke berbagai satuan pendidikan, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Harapan kami, program ini terus berjalan dan tidak berhenti pada kegiatan peluncuran. Seluruh sekolah nantinya bisa ikut mengembangkan kegiatan serupa,” tegasnya.
Melalui SEMAILIS, Disdik Berau ingin mengubah cara pandang terhadap lingkungan sekolah. Area yang sebelumnya dianggap hanya sebagai lahan kosong diharapkan dapat menjadi ruang produktif yang menghadirkan pengalaman belajar sekaligus menanamkan kebiasaan menjaga lingkungan kepada generasi muda.


