Kematian Massal Ikan Terjadi di Pesisir Kota Bontang, ini Dampak dan Penyebabnya!

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca45 kali dibaca
Kematian Massal Ikan di Ratusan Keramba Milik Nelayan di Kota Bontang. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Kematian Massal Ikan di Ratusan Keramba Milik Nelayan di Kota Bontang. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kematian Massal Ikan Terjadi di Pesisir Kota Bontang, ini Dampak dan Penyebabnya!

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca45 kali dibaca
Kematian Massal Ikan di Ratusan Keramba Milik Nelayan di Kota Bontang. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Kematian Massal Ikan di Ratusan Keramba Milik Nelayan di Kota Bontang. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kematian Massal Ikan Terjadi di Pesisir Kota Bontang, ini Dampak dan Penyebabnya!

45
Kematian Massal Ikan di Ratusan Keramba Milik Nelayan di Kota Bontang. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Kematian Massal Ikan di Ratusan Keramba Milik Nelayan di Kota Bontang. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan

BONTANG – Kematian massal ikan terjadi di sekitar 200 petak keramba di tiga wilayah pesisir Bontang, yakni Tanjung Limau, Selambai, dan Gusung. Peristiwa yang mulai terjadi sejak 27 September 2026 itu masih berlangsung hingga Minggu (8/11/2026).

Ketua Kelompok Nelayan Pembudidaya FANTASI, Ismail, mengatakan ikan-ikan di dalam keramba awalnya menunjukkan gejala mabuk sebelum akhirnya mati. Jumlah ikan yang mati pun terus bertambah seiring kondisi air yang dinilai belum membaik.

" Tidak menutup kemungkinan bisa habis karena air masih belum bagus," ujarnya.

Ismail menyebut, dari 30 petak keramba miliknya, sekitar satu ton ikan telah mati. Sementara itu, total keramba yang terdampak di tiga lokasi tersebut mencapai sekitar 200 petak.

Ia juga mengungkapkan, dirinya memiliki total 40 petak keramba dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

"Saya sendiri ada 40 petak keramba sendiri dengan total kerugian mencapai ratusan juta," katanya.

Selain itu, adapun keramba aspirasi 12 petak di Tanjung Limau yang mendapatkan bantuan bibit bulan lalu dari DKP3 Bontang pada tanggal (28/10/2026) sebanyak 7800 ekor ukuran bibit 10 cm. 

"Sekarang sudah berumur satu bulan lebih diperkirakan sudah mencapai ukuran 15 hingga 16 cm, tapi hanya tersisa sekitar 500 dari 7800 ekor," jelasnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang telah mengambil sampel air untuk dilakukan pengujian pada 3 November 2026.

Kepala Bidang Perikanan DKP3 Bontang, Syamsu Wardi, menyampaikan bahwa berdasarkan dugaan sementara, pencemaran tersebut dipicu faktor alamiah dan bukan aktivitas industri.

Ia menduga hujan deras yang terjadi saat kondisi air laut sedang konda menyebabkan air hujan tertahan lebih lama dan memengaruhi kualitas perairan.

Selain itu, hasil pengambilan sampel internal DKP3 menunjukkan sejumlah parameter air masih berada dalam batas normal. Salah satunya tingkat keasaman atau pH air di dua lokasi yang tercatat pada angka 7,8 hingga 7,9.

Meski demikian, Ismail mempertanyakan dugaan penyebab tersebut. Menurutnya, jika persoalan berasal dari kondisi air laut, seharusnya dampaknya juga dirasakan keramba di wilayah lain.

"Kalau ini karena air, kenapa hanya tiga lokasi saja? Sedangkan keramba yang berada di Bontang Kuala masih sehat," ungkapnya.

Di sisi lain, Syamsu belum ingin menarik kesimpulan akhir terkait penyebab kematian ikan tersebut. Pasalnya, masih ada hasil pengujian sampel yang dalam proses pemeriksaan.