Distapangtani Samarinda Ingatkan Warga: Pelihara Hewan Bukan Sekadar Tren, Waspadai Lonjakan Kasus Pilek

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca13 kali dibaca
Ilustrasi anabul. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi anabul. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Distapangtani Samarinda Ingatkan Warga: Pelihara Hewan Bukan Sekadar Tren, Waspadai Lonjakan Kasus Pilek

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca13 kali dibaca
Ilustrasi anabul. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi anabul. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Distapangtani Samarinda Ingatkan Warga: Pelihara Hewan Bukan Sekadar Tren, Waspadai Lonjakan Kasus Pilek

13
Ilustrasi anabul. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi anabul. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan pemeliharaan hewan kesayangan hanya sebatas tren gaya hidup semata tanpa diimbangi komitmen perawatan yang memadai. 

Teguran dan imbauan ini disampaikan seiring meningkatnya temuan kasus penyakit saluran pernapasan atau pilek pada hewan peliharaan di Kota Samarinda sepanjang Oktober 2026.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distapangtani Samarinda, Maskuri, menyampaikan bahwa tren kenaikan kasus pilek terpantau secara signifikan dalam pelayanan klinik hewan sebulan terakhir.

Jika pada bulan-bulan sebelumnya kasus penyakit pilek atau batuk pada hewan hanya ditemukan rata-rata dua kali dalam sepekan, kini angkanya melonjak tajam. Dari sekitar 10 pasien hewan yang mendatangi klinik setiap harinya, rata-rata tiga di antaranya mengeluhkan gejala pilek.

Maskuri menilai salah satu pemicu terlambatnya penanganan kesehatan hewan adalah kecenderungan pemilik yang kerap mengabaikan gejala awal penyakit pada anabul (anak bulu) mereka.

“Kalau hanya pilek atau batuk, biasanya dibiarkan dulu oleh pemiliknya selama tiga hari. Jika tidak kunjung sembuh, baru dibawa ke klinik. Kebiasaan ini yang sering kali membuat kondisi hewan memburuk sebelum mendapat penanganan medis,” jelas Maskuri baru-baru ini. 

Selain faktor kepekaan pemilik, beberapa faktor lain seperti fenomena perubahan cuaca ekstrem dari musim panas menuju musim hujan (pancaroba) juga dinilai berpotensi menurunkan imunitas tubuh hewan peliharaan maupun unggas. 

Di sisi lain, kendati Samarinda sempat diwarnai penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pihak Distapangtani belum dapat memverifikasi secara langsung apakah kabut asap menjadi pemicu utama lonjakan kasus ini.

Oleh karena itu, Maskuri mengimbau masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dan peka terhadap dinamika kesehatan hewan yang dipelihara. Pemilik diminta tidak ragu memanfaatkan fasilitas kesehatan hewan milik pemerintah daerah.

"Kami selalu berkomunikasi intensif dengan teman-teman komunitas cat lover maupun dog lover agar pemeliharaan hewan ini benar-benar diperhatikan, jangan sampai memelihara hanya karena ikut-ikutan tapi hewannya malah sakit," tegasnya.

Untuk mendukung pengobatan masyarakat, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Samarinda dipastikan tetap beroperasi melayani konsultasi dan pengobatan umum setiap hari Senin hingga Jumat. Sementara untuk tindakan medis khusus seperti operasi dan sterilisasi, layanan disediakan berdasarkan jadwal serta kesiapan tim dokter hewan. (Adv)