Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Murid Dihukum Guru, Asli: Bukan untuk Menyakiti

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Murid Dihukum Guru, Asli: Bukan untuk Menyakiti

    PusaranMedia.com

    Ilustrasi (Foto: Istimewa)

    Murid Dihukum Guru, Asli: Bukan untuk Menyakiti

    Ilustrasi (Foto: Istimewa)

    Reporter : Ayu Norwahliyah | Editor : Buniyamin

    SAMARINDA – Belakangan marak beredar kabar orang tua melaporkan guru kepada pihak berwajib atas dugaan ‘kekerasan’ yang dilakukan di sekolah.

    Kekerasan tersebut seperti mencubit, memukul atau mengunting rambut siswanya sebagai hukuman dengan alasan mendidik dan kedisplinan.

    Menanggapi permasalahan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Samarinda Asli Nuryadin mengatakan hal tersebut merupakan hal wajar.

    Sebab, kata Asli Nuryadin, dasar diberikannya hukuman tersebut bertujuan baik, yakni mendidik dan bukan sengaja untuk menyakiti anak murid atau siswa.

    “Saya paham sekali betapa sulitnya jadi guru. Tapi sekali lagi, saya yakin ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang akan dibawa mati," katanya.

    "Inilah yang identik pada guru, selama pendidik ini memberikan ilmu secara tulus dan ikhlas, Insya Allah itu jadi bekal yang akan mendampingi kita kelak, itu di guru,” ucapnya, Kamis (09/02/2023).

    Menurutnya, orang tua yang melaporkan guru ke pihak berwajib biasanya  menerima aduan secara mentah tanpa mengonfirmasikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah maupun guru yang bersangkutan.

    ”Kebanyakan mereka langsung laporan tanpa tanya ke sekolah. Padahal hukumannya tidak sampai menyebabkan luka atau lebam. Marahnya guru sama seperti orang tua marah ke anaknya, tidak mungkin tega,” terangnya.

    Namun, kata dia, hal wajar dalam memberikan hukuman fisik tersebut akan dikecualikan apabila sudah terdapat luka atau lebam serta tindakkan yang merujuk pada bullying. 

    "Jika terjadi luka atau lebam, maka silahkan orang tua langsung melaporkan pada pihak berwajib," ungkapnya. 

    Ia meminta orang tua untuk mempercayakan anaknya pada guru selama di sekolah dan bisa bekerjasama mendidik anak saat di rumah atau di luar sekolah.

    “Anak-anak ini banyak, jadi tolong dimaklumi. Gurunya satu jadi kadang-kadang ada sifat reflek. Selama masih wajar ya tidak apa-apa, jangan sampai kita sebagai orang tua tidak percaya dan malah timbul prasangka buruk pada pendidik kita,” tutupnya.