Reporter: Rezwan Ananda | Editor: Bambang Irawan
BONTANG - Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak di Bontang relatif tinggi, sehingga perlu perhatian bersama.
Dibutuhkan gerakan aktif untuk meningkatkan peran semua pihak untuk mencegah terjadinya persoalan tersebut.
Hal ini disampaikan Wakil walikota Bontang, Najirah saat disambangi wartawan pusaranmedia.com di Pendopo Rumah Jabatan Walikota Bontang, Rabu (20/9/2023)
Najirah mengatakan ada 36 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 51 kekerasan terhadap anak yang terjadi di kota Bontang.
"Tentu hal seperti ini kami sangat sayangkan, kami meminta seluruh pihak, terutama RT dan karang taruna sebagai ujung tombak pemerintah juga dapat membantu dalam pencegahan di wilayahnya. Sehingga kejadian seperti tidak ada lagi untuk ke depannya," ucapnya.
Lebih lanjut Najirah menyampaikan, agar kejadian kekerasan seksual ini jangan sampai berulang. Sebagai guru harusnya bisa mencerminkan prilaku yang baik dengan menjaga peserta didiknya.
"Soal kronologis lebih dalamnya nanti akan meminta informasi dari UPTD PPA DPPKB Kota Bontang. Akan ditindaklanjuti dulu yah. Kita akan bentuk tim khusus untuk itu," tuturnya.
Diketahui sebelumnya, seorang siswi SD di Bontang menjadi korban kekerasan seksual. Peristiwa memilukan ini terjadi pada Agustus 2023 lalu. Parahnya pelaku merupakan salah satu tenaga pengajar.
Saat dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB), Sukmawati mengatakan, saat ini korban sudah ditangani dengan dua kali berkonsultasi untuk mendapatkan pendampingan psikologis.
"Korban berusia 12 tahun. Kita sudah lakukan pendampingan. Kami dapat laporan di Agustus 2023 lalu, dan saat ini pelaku sudah ditahan di Polres Bontang" kata Sukmawati.

