Reporter: Lodya Astagina | Editor: Rusdianto
TENGGARONG - Kodim 0906/Kutai Kartanegara membangun total 89 sumur bor dengan sistem panel surya di lima kawasan pertanian terpadu, yang tersebar di 5 kecamatan, di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Dibangunnya sumur bor ini untuk dimanfaatkan petani mengairi persawahannya saat musim kemarau tiba. Hadirnya 89 sumur bor tersebut mampu mengairi 1.636 hektare lahan pertanian di Kukar dan memberikan keuntungan bagi 66 Kelompok Tani (Poktan).
Dandim 0906/KKR, Letkol Inf Jeffry Satria menyebut, pembangunan sumur bor sebagai irigasi pertanian itu merupakan inisiasi Program Gerakan Ketahanan Pangan, yang dilatarbelakangi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berjalan, dan penduduk Kalimantan Timur (Kaltim) yang diproyeksi akan mencapai 5,7 juta jiwa pada 2030 mendatang.
Pertambahan jumlah penduduk, bakal mendorong naiknya konsumsi beras yang diperkirakan mencapai 513.000 ton per tahun. Sedangkan, produksi beras di Kaltim hingga 2023 baru mencapai 151.333 persen, di mana 43 persennya disuplai dari Kabupaten Kukar.
Memandang jauh ke depan, Jeffry memprediksi persoalan pangan dapat menimbulkan masalah jika tidak diantisipasi dan disiapkan dari sekarang. Mengingat adanya defisit suplai pangan dan produktivitas hasil pertanian yang masih rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kondisi tanah yang masih minim unsur hara dan infrastruktur tani yang belum optimal.
“Atas arahan bapak Panglima Kodam Mulawarman, jajaran Kodam VI melaksanakan kegiatan gerakan ketahanan pangan dengan berkolaborasi bersama pemerintah daerah,” jelas Jeffry Satria, Rabu (21/2/2024).
Menghadapi kebutuhan di masa mendatang, Jeffry bersama jajarannya, Pemkab Kukar dan perusahaan berupaya meningkatkan produktivitas secara terfokus dengan membagi wilayah pertanian, yang telah ditetapkan menjadi lima kawasan di lima kecamatan. Kawasan tersebut dipilih berdasarkan ketersediaan dari kelompok tani, agar program di bidang pertanian dapat berjalan dengan lancar.
Tak hanya soal irigasi pertanian, di lima kawasan tersebut juga dibangunkan jalan usaha tani yang dibutuhkan petani untuk mengangkut hasil panen. Juga dibangun jembatan penghubung antara lahan pertanian, sehingga antar kawasan memiliki konektivitas.
Kemudian, melaksanakan pembangunan sumber air dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada, yakni membangun saluran irigasi. Sebagaimana diketahui, Kukar sebagian besar wilayahnya merupakan sawah tadah hujan dengan penambahan irigasi.
“Ini dapat meningkatkan musim tani dari dua kali menjadi tiga kali, sehingga harapannya ke depan dapat meningkatkan produksi beras,” ujarnya.
Lanjut Jeffry, di setiap kecamatan juga dibangun kawasan terintegrasi, yang meliputi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Kawasan terintegrasi ini diharapkan mampu menjadi etalase pertanian modern yang bisa dicontoh masyarakat.
“Hasilnya antara lain 4F, yaitu food, feed, fertilizer dan juga fuel atau bahan bakar bio. Harapannya apabila produktivitas meningkat, maka hasil produksi pertanian Kaltim dapat menjadi prioritas guna memenuhi konsumsi IKN,” tutur Jeffry.
89 titik sumur bor tersebut dibangun di lima kawasan pertanian berbasis kawasan, yang meliputi:
- Kawasan I, Kecamatan Muara Kaman dibangun 16 sumur bor.
- Kawasan II, Kecamatan Sebulu 13 sumur bor.
- Kawasan III, Kecamatan Tenggarong Seberang 14 sumur bor.
- Kawasan IV, Kecamatan Tenggarong 11 sumur bor.
- Kawasan V, Kecamatan Loa Kulu 35 sumur bor.
Terpisah, Bupati Kukar Edi Damansyah membeber, infrastruktur air untuk irigasi persawahan masih menjadi persoalan utama dalam pengembangan pertanian di wilayahnya. Namun, secara bertahap kendala-kendala tersebut coba diatasi. Menjalin kolaborasi dengan TNI dan memanfaatkan Corporate social responsibility (CSR) menjadi salah satu solusi menyelesaikan persoalan ini.
Ia merasa bersyukur dengan hasil kolaborasi ini bisa mempercepat tercapainya target Pemkab Kukar sebagai lumbung pangan di Kaltim. “Persoalan hari ini berkaitan dengan infrastruktur air, dan sekarang sudah ada,” ungkap Edi.
Diakui Edi, sumur bor dengan sistem panel tersebut merupakan teknologi yang efektif dan efisien untuk dimanfaatkan petani. Memang, kata dia, ada beberapa titik pertanian yang menggunakan sumur bor dengan tenaga mesin diesel. Tetapi kehadirannya dirasa masih menghambat petani dalam mengairi sawahnya, sebab sulitnya mencari BBM solar yang langka di Kukar.
“Inovasi ini (sumur bos sistem panel surya) menjadi solusi, sesuai dengan karakteristik wilayah pertanian di Kukar yang persentase air hujannya sedikit,” ucap Edi.
“Kami bersama Dandim 0906/KKR bekerja sama dengan perusahaan melalui Forum TJSP. Sehingga cakupan air di kawasan pertanian bisa terbantu, solusinya melalui sumur bor tenaga surya ini,” pungkasnya.

