Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Investasi di Samarinda Meningkat, Bergeser dari Pertambangan ke Perdagangan dan Jasa

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Samarinda, Jusmaramdhana Alus (foto : Ayu/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Bisnis

    Investasi di Samarinda Meningkat, Bergeser dari Pertambangan ke Perdagangan dan Jasa

    PusaranMedia.com

    Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Samarinda, Jusmaramdhana Alus (foto : Ayu/Pusaranmedia.com)

    Investasi di Samarinda Meningkat, Bergeser dari Pertambangan ke Perdagangan dan Jasa

    Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Samarinda, Jusmaramdhana Alus (foto : Ayu/Pusaranmedia.com)

    Reporter : Ayu Norwahliyah | Editor : Bambang Irawan

    SAMARINDA - Kota Samarinda sebagai pusat perdagangan dan jasa kini telah menunjukkan peningkatan ekonomi yang konsisten. 

    Hal ini terlihat dari tren investasi dan penanaman modal yang meningkat setiap tahunnya. Meski selama ini pendapatan Kota Tepian masih didominasi oleh aktivitas pertambangan, tetapi sejak tahun lalu fokusnya mulai beralih ke bidang perdagangan dan jasa. 

    Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Samarinda, Jusmaramdhana Alus menyatakan bahwa pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi salah satu faktor utama peningkatan investasi, khususnya di sektor perdagangan. 

    Pada 2024 ini, pihaknya menargetkan total investasi sebesar Rp 2,1 triliun, yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Pada triwulan pertama tahun ini, investasi sudah mencapai Rp 981 miliar.

    "Jika dibandingkan dengan data year on year (yoy), ada peningkatan sebesar 32 persen. Pada triwulan pertama tahun 2023, angkanya baru mencapai Rp 630 miliar," katanya.

    Kepala Bidang Pengendalian dan Pengawasan (Dalwas) DPMPTSP Samarinda, Chairuddin mengungkapkan bahwa kontributor terbesar untuk PMDN berasal dari subsektor pertambangan sebesar 49,41 persen. 

    Sektor kedua terbesar adalah perdagangan dan reparasi dengan 18,59 persen, diikuti oleh sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar 12,44 persen. Untuk PMA, kontributor tertinggi berasal dari subsektor perdagangan dan reparasi sebesar 50,72 persen.

    Chairuddin juga menjelaskan bahwa tren ini diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun.

    "Namun secara keseluruhan, tren ini belum terlihat jika hanya mengacu pada laporan di kuartal pertama. Sebab, ada beberapa catatan investasi dari sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang baru dilaporkan pada pertengahan tahun ini," tandasnya.