Reporter: Aswin| Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG – Merangin, salah satu ritual sakral dalam rangkaian Festival Adat Erau, sarat akan nilai warisan leluhur yang hingga kini terus dilestarikan.
Ritual Merangin dipusatkan di Serapo Belian, sebuah bangunan kayu dengan dikelilingi kain berwana kuning yang berada di halaman depan Keraton Kesultanan Kutai atau Museum Mulawarman Tenggarong.
Prosesi ini dipimpin para abdi khusus ritual, yakni Belian (laki-laki) dan Dewa (perempuan). Mereka membacakan mantra sambil mengelilingi Binyawan.
Binyawan sendiri merupakan alat utama dalam Merangin, berupa tiang bambu yang dibalut janur kuning hingga tujuh tingkat. Ketika para Belian berlari mengelilingi sambil memegang batang Binyawan, tiang tersebut ikut berputar pada sumbunya.
Gerakan para Belian semakin lama semakin cepat, sementara para Dewa sesekali menaburkan beras kuning ke arah mereka yang terus berputar mengitari alat ritual itu.
Prosesi diawali dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara. Tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini kemudian mengelilingi Binyawan dengan khidmat. Sesekali, beras kuning ditebarkan sebagai simbol doa dan harapan agar rangkaian Erau berjalan lancar. Suasana mistis semakin terasa ketika tabuhan gong dan gendang mengiringi jalannya ritual.
Lebih dari sekadar upacara adat, Merangin menjadi wujud penghormatan kepada alam semesta sekaligus penyambutan tamu, baik dari dunia nyata maupun gaib.
Kerabat Kesultanan Kutai, Derry, menjelaskan Merangin adalah media komunikasi dengan roh halus agar mereka mengetahui adanya upacara sakral di keraton.
“Para Belian melakukan Merangin untuk mengundang Sanghyang, Kenjutaian, Kemungulan serta roh halus lainnya. Mereka memberi tahu bahwa Sultan akan melaksanakan Bepelas. Saat mereka berputar, itu artinya mereka sedang mengundang,” terangnya, Jumat (26/9/2025).
Ritual Merangin sendiri digelar sejak tiga hari sebelum Erau diresmikan, ditandai dengan pendirian Tiang Ayu. Selanjutnya, dilakukan setiap malam hingga prosesi sakral Bepelas, kecuali pada Kamis atau malam Jumat.
“Pada malam Jumat, Sultan di Martadipura memiliki ritual tersendiri, yaitu memanjatkan doa dan menghormati malam Jumat. Tidak ada ledakan atau tabuhan, Sultan hanya membaca doa di dalam keraton. Setelah itu, barulah ritual kembali dilanjutkan malam berikutnya,” tambah Derry.
Ritual Merangin ini dijalankan oleh masyarakat adat Kedang Ipil sebagai bagian dari kekayaan tradisi Kutai Kartanegara yang terus dijaga kelestariannya.
Derry pun mengajak seluruh pihak untuk menjaga tradisi ini, terutama generasi muda agar terus mempertahankan dan mempelajari warisan budaya yang ditinggalkan para leluhur.

