Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Belimbur Bukan Akhir, Tiang Ayu Jadi Penutup Sakral Erau

Penurunan Tiang Ayu penanda berakhirnya pesta adat erau tahun 2025 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Belimbur Bukan Akhir, Tiang Ayu Jadi Penutup Sakral Erau

    PusaranMedia.com

    Penurunan Tiang Ayu penanda berakhirnya pesta adat erau tahun 2025 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

    Belimbur Bukan Akhir, Tiang Ayu Jadi Penutup Sakral Erau

    Penurunan Tiang Ayu penanda berakhirnya pesta adat erau tahun 2025 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

    Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

    TENGGARONG – Belimbur dan Mengulur Naga kerap dianggap sebagai akhir Festival Adat Erau. Tapi secara adat, penanda berakhirnya rangkaian upacara sakral ini ditandai dengan prosesi Penurunan Tiang Ayu yang juga menjadi simbol dibukanya Erau.

    Ini ditegaskan Pangeran Notonegoro Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Heriansyah.

    Ia menjelaskan, Belimbur dan Mengulur Naga memang menjadi prosesi yang paling meriah dan ditunggu masyarakat, tetapi secara adat Erau benar-benar berakhir setelah Tiang Ayu direbahkan.

    “Mengulur Naga dan Belimbur itu puncak kemeriahannya, acara besarnya ada di situ. Namun secara sakral, penutup Erau adalah saat Tiang Ayu direbahkan,” ungkap Heriansyah, Senin (29/9/2025).

    Kerabat Kesultanan Kutai, Derry juga menegaskan Belimbur dan Mengulur Naga bukanlah akhir dari Erau. “Penutup yang sesungguhnya adalah prosesi merebahkan Tiang Ayu. Dengan direbahkannya Tiang Ayu, maka usailah seluruh kegiatan Erau yang telah berlangsung selama sepekan,” ujarnya.

    Ia mengatakan rangkaian prosesi Erau merupakan warisan turun-temurun yang tidak pernah berubah sejak masa Sultan Aji Batara Agung Dewa Sakti.

    “Struktur acaranya tetap sama, mulai dari Menjamu, Merangin, hingga Bepelas. Itu semua adat yang tidak boleh dikurangi,” tegasnya.

    Sebagai informasi, Tiang Ayu merupakan sebuah tiang yang berbentuk tombak dan terbuat dari kayu ulin yang biasa disebut dengan nama Sangkoh Piatu.

    Sangkoh Piatu diyakini merupakan senjata Raja Kutai Pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti, pada batangnya diikatkan Tali Juwita yang menyimbolkan berbagai lapisan pada masyarakat dan Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai. 

    Prosesi merebahkan Tiang Ayu akan dimulai ketika Sultan sudah hadir di dalam ruangan. Empat orang kerabat kesultanan berjajar di sisi Sangkoh Piatu.

    Kemudian, Sangkoh Piatu akan digoyangkan sebanyak tiga kali. Sangkoh Piatu digoyangkan layaknya menggoyahkan dan menumbangkan batang pohon. Setelah itu, Sangkoh Piatu direbahkan di atas kasur.

    Perlu diketahui, saat Tiang Ayu didirikan, itulah penanda dimulainya rangkaian upacara adat Erau setiap tahunnya. Maka, saat direbahkan, berarti Erau resmi berakhir.

    Pada Senin (29/9/2025), prosesi Penurunan Tiang Ayu digelar di Keraton atau Musium Mulawarman Tenggarong, dihadiri Sultan Kutai Ing Martadipura, kerabat Kesultanan, serta para pejabat Kabupaten Kukar, yang menandai berakhirnya Erau tahun 2025.

    “Erau ini adalah warisan leluhur kita. Semoga tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga berkualitas dan mampu menghadirkan makna yang dapat dipetik oleh generasi muda. Nilai-nilai baik dari prosesi Erau ini hendaknya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam lingkungan keluarga, tetapi juga di pemerintahan,” pungkasnya.