Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Keterbatasan tenaga kesehatan masih menjadi tantangan di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau.
Hingga kini, kampung tersebut belum memiliki bidan yang menetap, sehingga pelayanan kesehatan ibu hamil dan persalinan harus dirujuk ke kampung terdekat, yakni Pegat Bukur.
Kepala Kampung Inaran, Amirullah menegaskan informasi yang menyebut Kampung Inaran tidak memiliki tenaga kesehatan secara keseluruhan tidak sepenuhnya benar.
Menurutnya, tenaga kesehatan masih tersedia di Puskesmas Pembantu (Pustu), tapi khusus bidan memang belum ada.
“Kalau dibilang tidak ada tenaga kesehatan itu tidak betul. Mantri ada di Pustu dan yang tidak ada itu bidan, khusus menangani kehamilan dan persalinan,” jelas Amirullah.
Ia menyebut sebelumnya Kampung Inaran sempat memiliki bidan, tapi telah pindah tugas ke Kampung Segah setelah mendapatkan SK baru sebagai tenaga P3K.
Sejak saat itu, posisi bidan di Kampung Inaran belum terisi kembali. “Sekarang kami masih terus mengusulkan agar ada bidan yang ditempatkan di Inaran,” ujarnya.
Akibat keterbatasan tersebut, warga Kampung Inaran yang membutuhkan pemeriksaan kehamilan, persalinan maupun layanan kesehatan reproduksi perempuan diarahkan ke Kampung Pegat Bukur.
Jarak tempuh antar kampung relatif dekat, sekitar 15 menit perjalanan darat dengan kondisi jalan yang sudah memadai.
“Kalau kondisi normal, perjalanan cepat. Tapi kalau banjir, akses bisa terputus dan ini yang jadi kekhawatiran kami,” katanya.
Amirullah juga menilai layanan kesehatan perempuan kurang ideal jika sepenuhnya ditangani tenaga kesehatan laki-laki.
Meski layanan KB masih bisa dilakukan oleh mantri, tapi untuk pemeriksaan ibu hamil dinilai kurang tepat.
“Kalau untuk ibu-ibu hamil kan sebaiknya ditangani bidan. Itu lebih nyaman dan sesuai,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kampung Inaran tengah menyiapkan calon bidan dari putri daerah.
Kini, calon tersebut masih dalam proses penyelesaian administrasi dan pengambilan akta profesi.
Pemerintah kampung juga telah mengajukan dukungan beasiswa ke PT Berau Coal untuk pembiayaan selama satu tahun pendidikan.
“Kami sengaja siapkan anak kampung sendiri supaya nanti betah dan tidak cepat pindah. Kalau tenaga dari luar daerah, biasanya tidak tahan lama,” jelasnya.
Pemerintah kampung juga telah berkoordinasi dengan Puskesmas Sambaliung dan Dinas Kesehatan terkait kekurangan tenaga bidan.
Namun untuk sementara, warga masih diarahkan memanfaatkan layanan di Pegat Bukur karena keterbatasan penempatan tenaga dari puskesmas.
“Sudah kami sampaikan tahun ini. Saran mereka sementara ke Pegat Bukur dulu karena jaraknya dekat dan akses jalannya sudah bagus,” pungkas Amirullah.

