Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Intip Usaha Atap Daun Nipah, Sampingan Tapi Menjanjikan

Yuli saat menjahit atap daun di rumahnya. (Foto: Lodya/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Advertorial

    Intip Usaha Atap Daun Nipah, Sampingan Tapi Menjanjikan

    PusaranMedia.com

    Yuli saat menjahit atap daun di rumahnya. (Foto: Lodya/Pusaranmedia.com)

    Intip Usaha Atap Daun Nipah, Sampingan Tapi Menjanjikan

    Yuli saat menjahit atap daun di rumahnya. (Foto: Lodya/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Lodya Astagina | Editor: Supiansyah

     

    TENGGARONG - Usaha turun-temurun atap daun selama puluhan tahun bisa untuk menghidupi lima anak.

    Yuli yang berprofesi sebagai penjahit atap daun, merupakan generasi kedua setelah orang tuanya yang lebih dulu menekuni usaha ini sejak 2000 lalu. Ia sudah mulai belajar menjahit atap dari kecil, dan baru mulai ikut menekuni usaha ini dalam setahun terakhir.

    “Ini usaha awalnya dari ibu, dari saya kecil usaha ini sudah ada,” kata Yuli, Selasa (10/11/2020).

    Sebelumnya, Yuli bekerja di pabrik plywood di Rimba Raya Lestari (RRL) yang berada di daerah Jembayan selama lima, sejak 2013 hingga 2018.

    Terkadang orang tuanya masih ikut menjahit atap, dan lebih sering diupahkan kepada tetangga untuk saling berbagi rezeki.

    “Sering ditinggal juga, jadi kalau mau jahit nanti dibayar Rp350 untuk satu atap, jadi kalau mereka jahit 100 atap bisa dapat Rp35 ribu,” katanya.

    Tidak ada target khusus. Mereka bisa menjahit sesuai dengan kemampuan masing-masing. Karena menjahit atap ini hanyalah pekerjaan sampingan saja untuk mengisi waktu luang.

    “Sehari bisa dapat 100 atap kalau meluangkan waktu menjahit. Kalau sambil dikerjai dengan pekerjaan lain ya bisa berhari-hari,” sambungnya.

    Menjahit atap menjadi pemasukan utama keluarga Yuli. Namun, selain itu orang tuanya juga bekerja sebagai petani di sawah untuk menambah penghasilam.  

    “Penghasilannya utama dari sini, untuk kehidupan makan sehari-hari cukup aja,” ungkapnya.

    Tidak seperti dulu, sekarang peminat atap daun sudah berkurang. Pemesan terbanyak biasanya dari pemilik kandang ayam, bisa mencapai seribu atap.

    “Kadang rame kadang sepi, karena sekarang jarang pake atap daun, dulu banyak yang pakai. Kadang ada yang bilang untuk bangunan sarang burung lewat, warung kecil, atau kebun,” ujarnya.

    Satu ikat berisi 25 atap yang dijual dengan harga Rp70 ribu per ikatnya. Namun, Yuli mengaku, tidak setiap hari ada yang membeli atap, dan tidak setiap hari juga bisa menjahit, karena sulitnya mendapatkan bahan daun nipah dan bembannya.

    Yuli membayar Rp35 ribu untuk satu roll daun nipah dan Rp20 ribu untuk 100 biji bemban. Dari situ Yuli bisa mendapagkan keuntungan bersih Rp500 ribu sampai Rp700 ribu.

    Penggunaan atap daun sendiri bisa bertahan dua hingga tahun lamanya jika dijahit dengan teknik dan jarak yang tepat. (adv)