Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dalam beberapa hari ke depan.
Peringatan ini menyusul terpantau adanya bibit siklon tropis di perairan Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Kalimantan, termasuk Kaltim.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono menyampaikan, saat ini terdeteksi adanya daerah tekanan rendah di Samudra Pasifik yang berpotensi berkembang menjadi bibit siklon tropis, bahkan meningkat menjadi siklon tropis.
"Dalam satu hingga dua hari ke depan, terdapat potensi daerah tekanan rendah di Samudra Pasifik yang bisa berkembang menjadi bibit siklon tropis. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi cuaca di Kalimantan Timur," ucap Djoko, Kamis (5/2/2026).
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita menjelaskan, keberadaan bibit siklon tropis tersebut berpotensi memicu perubahan pola angin di wilayah Kaltim.
Perlambatan kecepatan angin dan belokan arah angin dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif atau awan hujan.
"Jika sistem ini terbentuk, pola angin di Kalimantan Timur cenderung melambat dan berbelok. Kondisi tersebut sangat mendukung terbentuknya awan hujan yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem," jelas Carolina.
Ia menerangkan, bibit siklon tropis umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima hari untuk berkembang menjadi siklon tropis.
Selama berada di Samudra Pasifik, sistem ini masih disebut sebagai bibit siklon karena menyerap uap air dalam jumlah besar.
"Ketika sistem ini bergerak dan melintasi Kepulauan Filipina, ada kemungkinan berkembang menjadi siklon tropis. Namun, setelah melewati daratan, umumnya sistem akan melemah," katanya.
Meski pusat siklon berada di luar wilayah Indonesia, dampak tidak langsung tetap dapat dirasakan di Kaltim.
Tarikan massa udara dari sistem tersebut berpotensi memicu gangguan atmosfer yang dapat menimbulkan hujan lebat, angin kencang, serta kilat dan petir.
"Dampak tidak langsungnya berupa tarikan angin yang cukup kuat. Udara akan tertarik ke pusat sistem, sehingga memengaruhi wilayah Kalimantan Timur dan memicu belokan angin," ungkapnya.
Menurutnya, siklon tropis merupakan fenomena regional dengan cakupan wilayah luas, namun berdurasi relatif singkat.
Kendati demikian, dampaknya di tingkat lokal bisa cukup signifikan.
"Dalam skala lokal, perubahan cuaca bisa terjadi secara tiba-tiba. Potensi cuaca ekstrem dapat muncul di tingkat provinsi, kabupaten, hingga kecamatan," jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Selain itu, potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor juga perlu diantisipasi.
Wilayah yang diminta meningkatkan kewaspadaan meliputi Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, Kabupaten Paser, serta Kota Samarinda, Bontang, dan Balikpapan dalam dua hingga tiga hari ke depan.
"Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan segera mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh cuaca ekstrem," pungkasnya.

