Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Kabar Baik dari Kukar, Pesut Mahakam Bertambah Enam Ekor di 2025

Daniela Kreb, wanita berkebangsaan Belanda yang tergabung dalam Yayasan Konservasi RASI, menjadi salah satu pemerhati sekaligus sosok yang aktif bergerak dalam penyelamatan kelangsungan pesut mahakam (Foto: Istimewa)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Kabar Baik dari Kukar, Pesut Mahakam Bertambah Enam Ekor di 2025

    PusaranMedia.com

    Daniela Kreb, wanita berkebangsaan Belanda yang tergabung dalam Yayasan Konservasi RASI, menjadi salah satu pemerhati sekaligus sosok yang aktif bergerak dalam penyelamatan kelangsungan pesut mahakam (Foto: Istimewa)

    Kabar Baik dari Kukar, Pesut Mahakam Bertambah Enam Ekor di 2025

    Daniela Kreb, wanita berkebangsaan Belanda yang tergabung dalam Yayasan Konservasi RASI, menjadi salah satu pemerhati sekaligus sosok yang aktif bergerak dalam penyelamatan kelangsungan pesut mahakam (Foto: Istimewa)

    Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

    TENGGARONG - Penyelamatan populasi dan ekosistem pesut Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), menjadi perhatian serius yang terus digalakkan. Meski statusnya masih terancam punah, populasinya kini disebut bertambah enam ekor pada akhir tahun 2025.

    Upaya konservasi habitat hewan endemik Kukar ini melibatkan banyak pihak, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat hingga yayasan konservasi mandiri.

    Daniela Kreb, wanita berkebangsaan Belanda yang tergabung dalam Yayasan Konservasi RASI, menjadi salah satu pemerhati sekaligus sosok yang aktif bergerak dalam penyelamatan kelangsungan mamalia tersebut di Kukar.

    Daniela mengatakan, diperlukan upaya preventif secara intensif guna mencegah kepunahan pesut Mahakam. Sebab, keberadaannya mulai tergerus dan kini hanya menyisakan sekitar 66 ekor di perairan Kukar.

    “Kami mendirikan yayasan untuk menyelamatkan hewan yang terancam punah ini,” ucapnya baru-baru ini.

    Aktivitas kapal pengangkut batu bara, kegiatan masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam, dan berbagai aktivitas lainnya menjadi salah satu faktor terancamnya pesut Mahakam. Karena itu, pemerintah bersama sejumlah pemerhati satwa liar mulai mengobservasi habitat pesut.

    Sejauh ini, perkembangan populasi pesut mulai menunjukkan pertumbuhan. Daniela mengatakan, sejak tahun 2024, tercatat jumlah pesut hanya 60 ekor. Memasuki akhir tahun 2025, jumlahnya meningkat menjadi 66 ekor.

    “Dalam satu tahun terakhir hingga akhir 2025 bertambah enam ekor. Jadi, totalnya tercatat sebanyak 66 ekor,” imbuhnya.

    Dengan bertambahnya jumlah tersebut, hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah maupun relawan dalam menjaga ekosistem pesut saat ini. Diharapkan, kondisi ini dapat menjadi pemantik bagi pemerhati lain dan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hewan langka di Kukar tersebut.