Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Selama Ramadan, Pembagian MBG Dirapel Tiga Hari Sekali dengan Menu Kering Bisa untuk Berbuka 

Dapur SPPG Kelurahan Karang Ambun. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Selama Ramadan, Pembagian MBG Dirapel Tiga Hari Sekali dengan Menu Kering Bisa untuk Berbuka 

    PusaranMedia.com

    Dapur SPPG Kelurahan Karang Ambun. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

    Selama Ramadan, Pembagian MBG Dirapel Tiga Hari Sekali dengan Menu Kering Bisa untuk Berbuka 

    Dapur SPPG Kelurahan Karang Ambun. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

    TANJUNG REDEB – Program penyaluran makanan bagi siswa di Kabupaten Berau tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian. 

    Koordinator Wilayah BGN atau SPPG Kabupaten Berau, Rani Oktaviana, menjelaskan bahwa mekanisme distribusi dibuat fleksibel, namun tetap mengikuti petunjuk teknis yang berlaku.

    Menurutnya, penyaluran makanan tidak selalu dilakukan setiap hari, tetapi bisa juga dirapel dalam beberapa hari sekaligus. Meski demikian, jumlah paket yang dibagikan tetap dibatasi.

    “Penyalurannya bisa setiap hari, bisa juga dua atau tiga hari sekaligus dirapel. Tapi sesuai juknis, maksimal tiga paket. Misalnya dalam satu minggu, Senin sampai Rabu diberikan tiga paket sekaligus, lalu Kamis kembali dibagikan untuk paket Kamis, Jumat, dan Sabtu,” jelasnya.

    Selama Ramadan, menu makanan yang diberikan kepada siswa juga mengalami penyesuaian. Jika biasanya menu lebih beragam, kini difokuskan pada makanan kering yang lebih tahan lama.

    Rani menyebutkan, sumber karbohidrat dalam paket makanan diganti, seperti roti atau bahan pangan lain yang memiliki daya simpan lebih lama, termasuk umbi-umbian. Hal ini dilakukan agar kualitas makanan tetap terjaga hingga waktu dikonsumsi oleh siswa.

    Meski demikian, pihaknya tetap merencanakan kegiatan buka puasa bersama di sekolah. Pada momen tersebut, siswa akan mendapatkan menu basah yang disiapkan dalam kemasan khusus.

    “Produksinya dilakukan dari pagi sampai siang, lalu sore hari didistribusikan agar bisa langsung dikonsumsi saat berbuka,” ujarnya.

    Ia juga memastikan bahwa seluruh siswa tetap menerima paket makanan, termasuk siswa non-muslim. Namun selama Ramadan, menu yang diberikan diseragamkan berupa makanan kering.

    Sementara itu, penyaluran program ini secara serentak akan kembali berjalan pada 23 Februari. Sebelumnya, kegiatan sempat dihentikan sementara selama beberapa hari.

    “Kami libur dari tanggal 16 sampai 21 Februari, dan mulai beroperasi kembali serta menyalurkan paket secara serentak pada 23 Februari,” katanya.

    Terkait kualitas dan keamanan makanan, Rani menegaskan bahwa setiap dapur SPPG sudah memiliki tenaga ahli gizi serta relawan yang telah mendapatkan pelatihan khusus dalam pengolahan makanan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Berau. Selain itu, pengawasan juga dilakukan oleh puskesmas setempat.

    Ia menambahkan, bahan makanan yang diambil dari luar juga harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk memiliki izin usaha dan sertifikat PIRT.

    Belajar dari kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di wilayah lain, pihaknya melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di Berau. Salah satu langkah yang diambil adalah memperketat pengambilan produk dari pelaku UMKM, terutama untuk menu basah yang dinilai lebih berisiko.

    “ Kalau pun mengambil dari UMKM, minimal kita tahu bagaimana proses di dapurnya, atau lebih baik lagi jika sudah memiliki PIRT,” tegasnya.

    Rani berharap dengan pengaturan distribusi, penyesuaian menu, serta pengawasan yang ketat, program penyaluran makanan bagi siswa di Berau selama Ramadan tetap berjalan lancar dan aman untuk dikonsumsi.