Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Pengemis Berkostum Badut Marak di Tenggarong Jelang Lebaran, Dinsos Minta Warga Tidak Memberi Uang

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan Dinas Sosial (Dinsos) Kukar, Sunarko. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Pengemis Berkostum Badut Marak di Tenggarong Jelang Lebaran, Dinsos Minta Warga Tidak Memberi Uang

    PusaranMedia.com

    Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan Dinas Sosial (Dinsos) Kukar, Sunarko. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

    Pengemis Berkostum Badut Marak di Tenggarong Jelang Lebaran, Dinsos Minta Warga Tidak Memberi Uang

    Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan Dinas Sosial (Dinsos) Kukar, Sunarko. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

    TENGGARONG - Menjelang berakhirnya Ramadan, fenomena pengemis dengan berbagai modus kembali terlihat di sejumlah titik ramai di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satu yang mencolok adalah kemunculan individu yang mengenakan kostum badut untuk menarik simpati pengguna jalan.

    Aktivitas ini melibatkan beragam kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka biasanya berdiri di persimpangan lampu merah atau area padat lalu lintas, baik dengan mengenakan kostum maupun meminta secara langsung kepada pengendara.

    Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Warga Negara Migran Korban Tindak Kekerasan Dinas Sosial (Dinsos) Kukar, Sunarko, menilai praktik tersebut bukan sekadar hiburan jalanan, melainkan bagian dari pola mengemis yang kian berkembang dan berpotensi mengganggu ketertiban.

    “Modusnya sekarang semakin beragam. Ada yang pakai kostum badut, ada juga yang langsung meminta. Biasanya tren ini meningkat di sepuluh hari terakhir Ramadan,” ungkapnya, Rabu (18/3/2026).

    Sunarko mengungkapkan, praktik serupa bukan hal baru. Dalam sejumlah temuan sebelumnya, bahkan terdapat pihak yang berperan sebagai koordinator, termasuk menyewakan kostum badut kepada anak-anak untuk digunakan saat meminta uang di jalan.

    Ia menegaskan, keberadaan para pengemis tersebut tidak lepas dari respons masyarakat yang masih kerap memberikan uang secara langsung di jalan.

    “Kalau masih diberi, tentu mereka akan terus ada. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang di jalan. Jika tidak ada yang memberi, praktik ini juga akan berkurang,” tegasnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penertiban awal terhadap pengemis jalanan menjadi kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sesuai aturan ketertiban umum yang berlaku. Setelah diamankan, para pengemis akan ditangani lebih lanjut oleh Dinas Sosial bersama instansi terkait melalui proses asesmen guna menentukan langkah pembinaan atau penanganan lanjutan.